Green Look Me - Blogger Kere 2009

Green Look Me Adalah Seorang Blogger Kere Sejak Tahun 2009

Tampilkan postingan dengan label polisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label polisi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 01 Februari 2015

Depok rawan kejahatan, warga bikin surat terbuka kepada Nur Mahmudi. Selama bulan Januari 2015, dua aksi kejahatan begal terhadap pengendara sepeda motor terjadi di Depok. Tidak hanya membawa kabur kendaraan, pelaku juga tidak segan melukai bahkan hingga mencabut nyawa jika korbannya melawan.

Aksi begal pertama terjadi di Jalan Juanda, tak jauh dari lokasi pembangunan Tol Cijago, pada Jumat (9/1). Kejadian terakhir terjadi di depan Kampus BSI, Jalan Margonda, tak jauh dari terowongan gerbang masuk kota Depok pada Minggu (25/1) dini hari.

Aksi kejahatan sadis ini kemudian menjadi keprihatinan netizen yang kemudian dialamatkan kepada Walikota Depok Nur Mahmudi Ismail. Sebuah petisi yang dibuat di situs change.org meminta walikota yang berasal dari PKS itu untuk memperhatikan infrastruktur jalan.

Selain kepada Nur Mahmudi, petisi tersebut juga ditujukan kepada Polresta Depok dan anggota DPRD Depok. Hingga Jumat (30/1), petisi yang dibuat sejak 27 Januari 2015 oleh akun Arie Putra telah ditandatangani oleh 1.490 pendukung.

Berikut isi petisi tersebut.

"Sebuah standar jalan raya yang aman dan ramah untuk semua pengendara harus segara dijadikan sebuah peraturan daerah di Kota Depok, mulai dari infrastruktur lampu jalan hingga jumlah personel keamanan. Dalam kurang dari satu bulan, dua nyawa sudah melayang akibat perampokan (begal) di Kota Depok. Dua minggu yang lalu, satu nyawa melayang di Jalan Juanda. Tadi malam (25 Januari 2015), satu nyawa melayang di Jalan Margonda di depan Kampus BSI. Selain itu, banyak sekali kasus-kasus yang tidak merenggut nyawa pengguna jalan raya. Satu bulan yang lalu, teman saya pulang ke kos-kosan dengan sebuah celurit yang menancap di punggungnya. Itu dialaminya karena mencoba kabur dari kelompok kriminal begal di jalan raya kota Depok. Hal ini merupakan efek dari pembangunan yang tidak merata. Lampu-lampu jalan dan aparat keamanan sangat terpusat pada tempat-tempat di mana bangunan-bangunan apartemen berada. Hal ini merupakan efek dari pembangunan kota Depok yang tidak memikirkan keamanan dari penghuninya."

Berita Kriminal Begal Motor di Depok kini menghantui warga Depok yang mayoritasnya adalah warga Urban. Muncul menjadi berita hangat setelah pimpinan kelompok begal sadis yang kerap beraksi di Depok tertangkap oleh Aparat Reserse Kriminal Polresta Depok.

Dalam beraksi, Masduki dan anak buahnya tidak segan mencabut nyawa korbannya jika mereka melakukan perlawanan.

Seperti dikutip poldametrojaya.info, Jumat (30/1), Kasat Reskrim Polresta Depok, Kompol Agus Salim menjelaskan, dari pemeriksaan polisi, Masduki merupakan adik dari adik dari Mul, pelaku begal yang tewas saat penggerebekan di di rumah kontrakannya di kawasan Cilodong, Depok pada Rabu (28/1).

Kelompok Mul dan Masduki ini tercatat sudah dua kali membunuh korbannya. Selain di Depok, keduanya melakukan aksi kejahatan di wilayah Tangerang, Jakarta, Bekasi, hingga Bogor.

"Mereka ini tak hanya berulah di Depok, tetapi juga di sekitar Jakarta, Bogor, Bekasi dan Tangerang. Kami akan terus melakukan pengembangan untuk membekuk tersangka yang masih buron," kata Agus Salim.

Sebelumnya, Mul, satu dari empat pelaku begal motor di Depok ditembak mati petugas lantaran nekat melakukan perlawanan dalam sebuah penggerebekan di rumah kontrakan di kawasan Sukmajaya Depok, Selasa (27/1) dini hari tadi.

Hal itu dibenarkan Wakapolresta Depok, AKBP Irwan Anwar saat dikonfirmasi wartawan. Kendati demikian, sampai saat ini masih terus melakukan pengembangan karena sejumlah pelaku lainnya berhasil kabur dan kini tengah dalam pengejaran.

Penggerebekan itu sendiri dilakukan oleh aparat Reskrim Polresta Tangerang lantaran adanya pengembangan hingga ke wilayah Depok.
Hosting Super Cepat Indonesia KLIK DISINI

Selasa, 27 Januari 2015


Hayo !, Berani ke Gedung KPK, Polisi Berhadapan dengan Kopassus, Kophaskas dan Denjaka

Buntut dari ditangkapnya Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto, Ketua KPK Abraham Samad merasa perlu untuk meningkatkan penjagaan keamanan gedungnya. Terlebih Samad mendengar kabar bahwa sewaktu-waktu polisi akan melakukan penggeledahan terhadap ruang kerja dan Gedung KPK.

Gedung KPK memang menyimpan banyak data soal koruptor, dan ini asset yang sungguh bernilai dimana banyak pihak yang tersangkut kasus korupsi akan mencoba menghilangkannya.

Untuk itu Samad, sebagaimana dikatakan sumber KPK yang tidak mau disebutkan namanya, telah mengontak Panglima TNI Jenderal Moeldoko untuk mengirimkan anggota TNI menjaga keamanan gedung institusinya. Deputi Pencegahan KPK, Johan Budi SP, telah membenarkan bahwa gedung KPK akan mendapat pengamanan dalam jumlah banyak. Pengamanan itu akan dilakukan oleh aparat keamanan di luar institusi kepolisian.


Iya, memang benar. KPK akan diback up oleh tim pengamanan yang jumlahnya cukup banyak di luar institusi Polri,” kata Johan.

Berdasarkan informasi yang beredar di kalangan wartawan, Jenderal Moeldoko akan mengirimkan tiga unit pasukan elit TNI dari tiga matra yang diterjunkan untuk melakukan pengamanan terhadap gedung KPK. Yakni Komando Pasukan Khusus (Kopassus) TNI AD, Detasemen Jalamangkara (Denjaka) TNI AL, dan Komando Pasukan Khas (Kopaskhas) TNI AU.

Namun demikian, berapa jumlah personel pasukan elit TNI itu belum diketahui. Yang pasti, pasukan elit TNI tersebut sudah disiapkan untuk pengamanan di Gedung KPK


#SaveKPK #SaveIndonesia #IwanFalsKeKPK

Minggu, 18 Januari 2015

Jenderal Hoegeng Iman Santoso (Sumber: KPK). Hoegeng Iman Santoso. Inilah polisi yang disebut sebagai contoh jenderal jujur yang pernah dimiliki oleh Indonesia. Kapolri yang patut menjadi teladan bagi seluruh anggota Korps Bhayangkara.

Bahkan, Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid alias Gus Dur memiliki anekdot: hanya ada tiga polisi jujur di Indonesia. Mereka yakni patung polisi, polisi tidur, dan Hoegeng.
3 Polisi Terbaik Indonesia ala Gusdur Patung Polisi, Polisi Tidur dan Pak Polisi Hoegeng
Hoegeng lahir di Pekalongan, Jawa Tengah, pada 14 Oktober 1921. Terlahir dengan nama Iman Santoso. Semasa kecil sering dipanggil Bugel (gemuk), yang kemudian sampai dewasa lebih populer dipanggil Hoegeng. Maka, menempellah nama itu sehingga menjadi Hoegeng Iman Santoso.

Dia merupakan anak sulung pasangan Soekario Kario Hatmodjo dan Oemi Kalsoem. Sang ayah merupakan seorang Kepala Kejaksaan yang selama hayatnya tidak pernah mempunyai tanah dan rumah pribadi. Sementara sang ibu merupakan perempuan sederhana yang sering menanamkan nilai-nilai budi pekerti baik kepada Hoegeng kecil.

Selama menjabat Kapolri sejak tahun 1968 hingga 1971, Hoegeng dikenal sebagai sosok pemimpin yang bersih. Meski sudah meninggal 14 Juli 2004, kisah kejujuran Hoegeng tak luntur. Kisah Hoegeng itu ditulis dalam memoar Hoegeng, Polisi antara Idaman dan Kenyataan, karangan Ramadhan KH.
Berikut aksi Hoegeng yang mengundang kekaguman itu, sebagaimana dikutip dari dan berbagai sumber lainnya. (Ism)

Kehidupan Hoegeng sebagai perwira polisi hanya pas-pasan. Oleh karena itu, istri Hoegeng, Merry Roeslani, membuka toko bunga untuk membantu perekonomian keluarga. Dan toko itu cukup laris.
Namun, Hoegeng melarang sang istri melanjutkan toko itu. `Perintah` itu dikeluarkan sehari menjelang dilantik menjadi Kepala Jawatan Imigrasi (kini jabatan ini disebut dirjen imigrasi) tahun 1960.
Merry tentu saja bertanya, mengapa toko itu harus ditutup. Apa hubungannya jabatan kepala jawatan imigrasi dengan dengan toko bunga?
"Nanti semua orang yang berurusan dengan imigrasi akan memesan kembang pada toko kembang ibu, dan ini tidak adil untuk toko-toko kembang lainnya," jelas Hoegeng.
Mendapat penjelasan itu, Merry pun bisa memahami dan mendukung suaminya untuk hidup jujur dan bersih. Dia rela menutup toko bunga yang sudah maju dan besar itu.
"Bapak tak ingin orang-orang beli bunga di toko itu karena jabatan bapak," kata Merry.

Sebagai pejabat, Hoegeng pernah merasakan godaan suap. Dia pernah dirayu pengusaha cantik keturunan Makassar-Tionghoa yang terlibat kasus penyelundupan. Wanita itu meminta Hoegeng menghentikan kasus itu.

Berbagai hadiah mewah dikirim ke alamat Hoegeng. Namun dia menolak mentah-mentah. Hadiah itu langsung dikembalikan. Tapi si wanita tak putus asa. Dia terus mendekati Hoegeng.
Yang membuat Hoegeng heran, malah koleganya di kepolisian dan kejaksaan yang memintanya melepaskan wanita itu.

Hoegeng tak hanya dikenal jujur. Dia juga tak segan turun ke lapangan melaksanakan tugas sebagai polisi. Meski berpangkat jenderal, dia tak segan turun ke jalan mengatur arus lalulintas.
Menurut Hoegeng, seorang polisi adalah pelayan masyarakat. Mulai polisi berpangkat terendah sampai tertinggi. Sehingga, dalam posisi sosial demikian, seorang agen polisi sama saja dengan seorang jenderal.

"Jika terjadi kemacetan di sebuah perempatan yang sibuk, dengan baju dinas Kapolri, Hoegeng akan menjalankan tugas seorang polantas di jalan raya. Itu dilakukan Hoegeng dengan ikhlas seraya memberi contoh kepada anggota polisi yang lain tentang motivasi dan kecintaan pada profesi," demikian ditulis dalam buku Hoegeng-Oase menyejukkan di tengah perilaku koruptif para pemimpin bangsa.

Hoegeng juga selalu tiba di Mabes Polri sebelum pukul 07.00 WIB. Sebelum sampai di kantor, dia memilih rute yang berbeda dan berputar dahulu dari rumahnya di Menteng, Jakarta Pusat. Dia selalu ingin memantau lalulintas dan kesiapsiagaan aparat kepolisian di jalan.
 
Ini kisah Hoegeng saat masih berpangkat Kompol. Kala itu warsa 1955. Dia mendapat perintah pindah ke Medan. Dia ditugasi membongkar penyelundupan dan perjudian. Para bandar judi telah menyuap aparat di Medan. Sehingga pisau keadilan menjadi tumpul. Hoegeng diangkat menjadi Kepala Direktorat Reskrim Kantor Polisi Sumut. Dia pindah dari Surabaya ke Medan. Dan belum punya rumah dinas. 

Baru saja Hoegeng mendarat di Pelabuhan Belawan, utusan seorang bandar judi sudah mendekatinya. Utusan itu menyampaikan selamat datang dan juga mengatakan sudah ada mobil dan rumah untuk Hoegeng hadiah dari para pengusaha.

Hoegeng menolak dengan halus. Dia memilih tinggal di Hotel De Boer menunggu sampai rumah dinasnya tersedia. Kira-kira dua bulan kemudian, saat rumah dinas di Jl Rivai siap ditinggali, Hoegeng terkejut bukan kepalang. Rumah dinas itu sudah penuh barang-barang mewah.
Ternyata barang itu lagi-lagi hadiah dari para bandar judi. Utusan yang menemui Hoegeng di Pelabuhan Belawan datang lagi. Tapi Hoegeng malah meminta agar barang-barang mewah itu dikeluarkan dari rumahnya.

Hingga waktu yang ditentukan, utusan itu juga tidak memindahkan barang-barang mewah tersebut. Sehingga dia memerintahkan polisi pembantunya dan para kuli angkut mengeluarkan barang-barang itu dari rumahnya. Diletakkan begitu saja di depan rumah.
Hoegeng geram mendapati para polisi, jaksa dan tentara disuap dan hanya menjadi kacung para bandar judi. "Sebuah kenyataan yang amat memalukan," ujar Hoegeng.
 

Sumarijem merupakan wanita penjual telur ayam berusia 18 tahun. Tanggal 21 September 1970, Sumarijem yang sedang menunggu bus di pinggir jalan, tiba-tiba diseret masuk ke dalam mobil oleh beberapa orang pria. Di dalam mobil, Sum diberi eter hingga tak sadarkan diri. Dia dibawa ke sebuah rumah di Klaten dan diperkosa bergiliran oleh para penculiknya.
 Setelah puas menjalankan aksi biadab mereka, Sum ditinggal begitu saja di pinggir jalan. Gadis malang ini pun melapor ke polisi. Namun, bukannya dibantu, Sum malah dijadikan tersangka dengan tuduhan membuat laporan palsu.

Dalam pengakuannya kepada wartawan, Sum mengaku disuruh mengakui cerita yang berbeda dari versi sebelumnya. Dia diancam akan disetrum jika tidak mau menurut. Sum pun disuruh membuka pakaiannya, dengan alasan polisi mencari tanda palu arit di tubuh wanita malang itu.
Karena melibatkan anak-anak pejabat yang berpengaruh, Sum malah dituding sebagai anggota Gerwani. Saat itu, pemerintah Soeharto memang gencar menangkapi anggota PKI dan underbouw-nya, termasuk Gerwani.

Kasus Sum disidangkan di Pengadilan Negeri Yogyakarta. Sidang perdana tertutup untuk wartawan. Belakangan polisi menghadirkan penjual bakso bernama Trimo. Trimo disebut sebagai pemerkosa Sum. Dalam persidangan Trimo menolak mentah-mentah.

Jaksa menuntut Sum penjara tiga bulan dan satu tahun percobaan. Tapi majelis hakim menolak tuntutan itu. Dalam putusan, Hakim Ketua Lamijah Moeljarto menyatakan Sum tak terbukti memberikan keterangan palsu. Karena itu Sum harus dibebaskan.

Dalam putusan hakim dibeberkan pula nestapa Sum selama ditahan polisi. Dianiaya, tak diberi obat saat sakit dan dipaksa mengakui berhubungan badan dengan Trimo, sang penjual bakso. Hakim juga membeberkan Trimo dianiaya saat diperiksa polisi.

Hoegeng terus memantau perkembangan kasus ini. Sehari setelah vonis bebas Sum, Hoegeng memanggil Komandan Polisi Yogyakarta AKBP Indrajoto dan Kapolda Jawa Tengah Kombes Suswono.

Hoegeng lalu memerintahkan Komandan Jenderal Komando Reserse Katik Suroso mencari siapa saja yang memiliki fakta soal pemerkosaan Sum Kuning.

"Perlu diketahui bahwa kita tidak gentar menghadapi orang-orang gede siapa pun. Kita hanya takut kepada Tuhan Yang Maha Esa. Jadi kalau salah tetap kita tindak," tegas Hoegeng.
Hoegeng membentuk tim khusus untuk menangani kasus ini. Namanya Tim Pemeriksa Sum Kuning, dibentuk Januari 1971. Kasus Sum Kuning terus membesar seperti bola salju. Sejumlah pejabat polisi yang anaknya disebut terlibat, membantah lewat media massa.

Belakangan Presiden Soeharto sampai turun tangan menghentikan kasus Sum Kuning. Dalam pertemuan di istana, Soeharto memerintahkan kasus ini ditangani oleh Team pemeriksa Pusat Kopkamtib. Hal ini dinilai luar biasa. Kopkamtib adalah lembaga negara yang menangani masalah politik luar biasa. Masalah keamanan yang dianggap membahayakan negara. Kenapa kasus perkosaan ini sampai ditangani Kopkamtib?

Dalam kasus persidangan perkosaan Sum, polisi kemudian mengumumkan pemerkosa Sum berjumlah 10 orang. Semuanya anak orang biasa, bukan anak penggede alias pejabat negara. Para terdakwa pemerkosa Sum membantah keras melakukan pemerkosaan ini. Mereka bersumpah rela mati jika benar memerkosa.

Kapolri Hoegeng sadar. Ada kekuatan besar untuk membuat kasus ini menjadi bias. Tanggal 2 Oktober 1971, Hoegeng dipensiunkan sebagai Kapolri. Beberapa pihak menilai Hoegeng sengaja dipensiunkan untuk menutup kasus ini.
 
Mantan Kapolri Jenderal Polisi Widodo Budidarmo punya kenangan soal Hoegeng. Widodo ingat betul pesan Hoegeng padanya.
 "Mas Widodo jangan sampai kendor memberantas perjudian dan penyelundupan karena mereka ini orang-orang yang berbahaya. Suka menyuap. Jangan sampai polisi bisa dibeli," tutur Widodo menirukan pesan Hoegeng.

Widodo tahu Hoegeng tidak asal memberikan perintah. Hoegeng telah membuktikan dirinya memang tidak bisa dibeli. Sejak menjadi perwira polisi di Medan, Hoegeng terkenal karena keberanian dan kejujurannya. Dia tak sudi menerima suap sepeser pun. Barang-barang hadiah pemberian penjudi dilemparkannya keluar rumah.

"Kata-kata mutiara yang masih saya ingat dari Pak Hoegeng adalah baik menjadi orang penting, tapi lebih penting menjadi orang baik," kenang Widodo.

Widodo bahkan menyamakan mantan atasannya dengan Elliot Ness, penegak hukum legendaris yang memerangi gembong mafia Al Capone di Chicago, Amerika Serikat. Saat itu, mafia menyuap hampir seluruh polisi, jaksa dan hakim di Chicago. Karena itu mereka bebas menjalankan aksi-aksi kriminal.
Tapi saat itu Elliot Ness dan kelompoknya yang dikenal sebagai The Untouchables atau mereka yang tak tersentuh suap, berhasil mengobrak-abrik kelompok gengster itu.

"Pak Hoegeng itu tak kenal kompromi dan selalu bekerja keras memberantas kejahatan," jelas Widodo.

Jakarta. - Jadi terkenal, Bripda Taufiq diminta tak seperti Norman Kamaru. - Merdeka.com - Dua hari ini Bripda Taufiq buruan awak media baik lokal sampai nasional. Dalam waktu singkat sosoknya pun menjadi terkenal di penjuru Indonesia. Sampai-sampai Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama terkesan dan membelikan motor untuk Bripda Taufiq.
Kisah nyata Bripda Taufiq, tinggal di rumah bekas kandang sapi

Menyadari dirinya menjadi sorotan publik, Bripda Taufiq tidak ingin menjadi kacang yang lupa kulitnya. Meski sudah menjadi terkenal, dia tetap berkomitmen menjadi seorang polisi.

"Insya Allah saya akan tetap jadi diri saya sendiri, Bripda Taufiq," katanya pada wartawan, Kamis (15/1).

Sebelumnya fenomena polisi yang mendadak terkenal juga terjadi pada Briptu Norman Kamaru. Saat itu Norman banyak mendapatkan undangan dari berbagai media dan tayangan televisi. Sampai akhirnya dia memutuskan keluar dari Polisi dan menempuh karir sebagai artis.

Melihat fenomena tersebut, pimpinan dan teman-temannya berkali-kali menasihati Bripda Taufiq untuk tetap setia pada kepolisian. Sebagai pimpinan Bripda Taufiq, Wadir Sabhara Polda DIY, AKBP Pri Hartono menasihati Bripda Taufiq untuk tetap menjadi dirinya sekarang ini.

"Kamu jangan lupa daratan, jangan sampai kamu meninggalkan seragam mu. Ingat, karena seragam ini kamu bisa menjadi seperti sekarang ini, jangan jadi kacang lupa kulit," katanya pada Bripda Taufiq di depan wartawan.

Mendengar nasehat tersebut, Bripda Taufiq pun berjanji tidak akan berubah. "Siap ndan! Saya janji nggak akan begitu. Insyaallah ndan!" serunya.

Salah seorang seniornya, Bripda Pirsa pun turut menasihati Taufiq. "Saya cuma pesan, jangan sampai kamu berubah, jangan sampai kamu keluar, tetaplah jadi Bripda Taufiq," ujarnya.

"Iya mbak," jawab Bripda Taufiq singkat.

Nama Bripda Taufiq mulai menghiasi berbagai media setelah institusinya Polda DIY mengetahui bahwa dia tinggal di kandang sapi. Dia tinggal di sana sudah dua tahun bersama dengan ayah dan tiga adiknya.
Kisah Bripda Taufik Diharapkan Ilhami Banyak Pemuda
"Bripda Taufiq jadi inspirasi pemuda untuk mendaftar sebagai polisi."

Menjadi polisi tidak harus berasal dari kalangan mampu. Orang kurang mampu secara ekonomi pun diperlakukan sama.

Itu dibuktikan Brigadir Polisi Dua (Bripda) Muhammad Taufiq Hidayat, yang dari keluarga miskin, bahkan tinggal di rumah bekas kandang sapi. Dia tetap diterima sekolah di Sekolah Polisi Negara Selopaimoro, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan kini menjadi anggota Sabhara Polda DI Yogyakarta.

"Saya berharap pemberitaan Bripda Taufiq ini menjadi semangat dan inspirasi pemuda untuk mendaftarkan diri sebagai anggota polisi," kata Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda DI Yogyakarta, AKBP Anny Pudjiastuti, Jumat, 16 Januari 2015.

Menjadi anggota polisi, katanya, tidak perlu membayar seperti dibicarakan masyarakat bahwa menjadi anggota polisi harus ke luar biaya banyak. Bripda Taufiq tak mengeluarkan uang sepeser pun.

"Semoga kisah hidup Bripda Taufiq menjadi inspirasi bagi siapa saja yang akan menjadi anggota Polisi, dan pendaftaran gratis," ujarnya.

Anny berterima kasih kepada pihak-pihak yang memberikan bantuan kepada Bripda Taufiq setelah kisah hidupnya muncul di media. Menurutnya, menjadi polisi dipastikan mendapatkan gaji dan tunjangan serta diharapkan mampu memperbaiki kehidupan ekonomi keluarganya.

“Ke depannya Taufik mendapatkan gaji dan tunjangan dari negara, sehingga bisa membantu keluarganya," ujarnya sembari berharap Taufiq tetap menjadi polisi yang sederhana, berintegritas dan berkomitmen.

Sebelumnya, dalam wawancara Bripda Muhammad Taufiq Hidayat, sempat berpesan agar jangan lelah menggapai cita-cita. Dia berharap apa yang dilaluinya menjadi penyemangat adiknya. "Dalam kondisi terpuruk pun harus berani bangkit," katanya.

Bripda Taufiq Hidayat Polisi Inspirasi Indonesia Yang Tinggalnya Di Rumah Sederhana
SLEMAN - Dibalik seragam yang dikenakan, tidak semua anggota polisi hidup berkecukupan. Salah satunya yang dialami Bripda Muhammad Taufiq Hidayat, seorang anggota Sabhara Polda DIY.

Atasan dan rekan-rekan Taufiq juga tak ada yang menyangka akan mirisnya kehidupan anggota Polri yang masuk tahun 2014 itu. Dalam kesehariannya, dia bersama keluarga tinggal di bangunan bekas kandang sapi. Taufiq yang lahir pada 25 Maret 1995 ini merupakan anak sulung dari empat bersaudara.

Setelah mengikuti pendidikan Sekolah Polisi Nasional (SPN) Selopamioro, Imogiri, Bantul, akhir Desember 2014, Taufiq menjalani karier pertamanya di Direktorat Sabhara Polda DIY. Dalam kondisi perekonomian sangat pas-pasan, karena tak memiliki motor setiap hari dia berangkat dinas menggunakan anggutan umum.

Bila tak memiliki uang terlebih saat Taufiq belum mendapatkan gaji pertamanya, tak jarang dia harus jalan kaki dari rumahnya di Dusun Jongke Tengah RT 04/23, Sendangadi, Mlati, Sleman. Bila beruntung, Tuaufiq membonceng temannya yang kebetulan melintas.

Meski dalam kondisi serba susah, dia tak pernah mengeluh. Taufiq terus menjalani kariernya di kepolisian dengan bangga. Seiring berjalannya waktu kehidupan keseharian Taufiq terkuak. Itu berawal dari kejadian Taufiq yang terlambat masuk dinas. Keterlambatan itu dilaporkan ke atasannya.

Setelah mendengar alasan Taufiq terlambat, maka untuk membuktikannya ada anggota polisi ditugaskan mengecek tempat tinggalnya. Begitu tahu kondisi kehidupan Taufiq sebenarnya, sontak semua menjadi prihatin. Tak ada satu pun yang menyangka.

Guna mengetahui kondisi tempat tinggal Taufiq, Rabu (14/1) kemarin, Direktur Sabhara Polda DIY Kombes Pol Zulsa Sulaiman bersama Kabid Humas AKBP Anny Pudjiastuti dan beberapa anggota Sabhara lain berkunjung ke rumahnya. Bangunan yang ditempati keluarga Taufiq terlihat sangat kecil dan kumuh dengan ukuran antara 2,5 X 5 m.

Itu juga hanya bisa digunakan separuh sehingga di dalam hanya ada satu tempat tidur dan lemari baju. Sementara tempat memasak di luar rumah. Sekeliling bangunan yang ditempati adalah kandang sapi yang dikelola kelompok masyarakat setempat.

Sementara di jalan masuk ke rumah terdapat satu mobil bak terbuka yang biasa digunakan bapak Taufiq untuk bekerja bila ada warga meminta jasa mengantar barang. “Bangunan (yang digunakan untuk tempat tinggal) ini dulunya kandang sapi juga. Terus disewa setahun Rp170.000 untuk isi kas kelompok,” ucap Taufiq saat diminta menunjukkan tempat tinggalnya kemarin.

Taufiq sendiri bersama anggota polisi satu angkatannya, dalam beberapa hari terakhir, menempati aula di Gedung Direktorat Sabhara Polda DIY sebelum mendapat kepastian penempatan tugas baru. Bangunan bekas kandang sapi yang menjadi rumah singgahnya hanya ditempati bapak dan kedua adiknya yang masih duduk di bangku SD.

Bahkan, karena keterbatasan tempat, satu saudaranya diikutkan tinggal di rumah kerabatnya. “Adik saya yang nomor dua tinggal di rumah si mbah,” kata Taufiq. Dia menceritakan secara terbuka kehidupannya. Taufiq beserta adik dan bapaknya sudah dua tahun menempati bangunan bekas kandang sapi itu. Itu dimulai sejak orang tuanya bercerai dan rumah yang dimiliki dijual ibunya.

Sejak perceraian itu, Taufiq dan ketiga adiknya lebih memilih ikut bapaknya. Meski berat, mereka tetap tegar. Berasal dari keluarga sederhana, Taufiq yang merupakan lulusan SMK Negeri 1 Seyegan, Sleman, mengaku memiliki cita-cita menjadi polisi. Sejak sekolah, dia sudah mengikuti ekstra Saka Bhayangkara, ketika dia mendapatkan ilmu kedisiplinan.

Begitu lulus pada 2013, di sekolahnya Taufiq diangkat menjadi pegawai tidak tetap untuk staf perpustakaan. Menjelang pendaftaran anggota Polri 2014, oleh temannya, dia didukung mendaftar. “Pas daftar itu saya jalan kaki, bapak tidak tahu,” katanya.

Setelah mengikuti berbagai tes dan diumumkan diterima dalam sidang terbuka penerimaan brigadir, Taufiq mulai mengajak bapaknya ikut. Saat itu, menurut dia, bapaknya masih belum yakin dan penasaran apa benar anaknya diterima jadi polisi. Kalaupun diterima dari mana anaknya mendapat uang untuk membayar.

Setelah diyakinkan Taufiq, mereka berangkat ke Polda DIY dengan meminjam motor dari bengkel. “Kebetulan daftar sekali langsung diterima dan itu benar-benar gratis. Saya bangga jadi polisi, mudah-mudahan bisa menjadi motivasi bagi adikadik saya, dengan kondisi terpuruk sekalipun kita harus berani bangkit jangan sampai justru semakin terpuruk,” ucapnya.

Direktur Sabhara Polda DIY Kombes Pol Zulsa Sulaiman mendengar cerita Taufiq menyampaikan kebanggaan terhadap anggotanya itu. Dengan dedikasinya, Taufiq dapat menjadi motivator bagi orang lain terutama teman-teman satu angkatannya. Itu sangat penting karena polisi kadang memiliki perasaan layaknya orang lain, yakni jenuh dengan situasi yang dihadapi.

“Saya bangga dengan Taufiq. Saya berharap Taufiq ke depannya tetap lebih baik, jenjang kariernya lebih baik ke depan,” katanya. Selama tinggal di Aula Direktorat Sabhara Polda DIY, anggota baru seminggu sekali tetap diberi kesempatan pesiar atau pulang ke rumah. Untuk pembinaan, polisi tetap profesional dan tidak membedabedakan Taufiq dengan anggota lain.

Namun supaya tidak terlambat, Taufiq diakui tinggal di rumah Wadirsabhara Polda DIY AKBP Prihartono. “Dia disuruh memakai motor milik Wadirsabhara,” katanya.

#bripda_taufiq
Facebook.com
Bambang Sunyoto · Sma 1 kediri Betul ya harapan kita Bripda Taufiq jangan sampai/seperti norman kamaru Reply · · 14 hours ago Uyun Samada · SMA Negeri 1 Ponorogo Ditngah bnyk pemuda terjerumus pergaulan bebas,trnyata msh ada seorng Taufik yg bgtu gigih utk meraih cita,walau dgn keterbtsan ekonomi yg mmbelitnya,salut dn ttp prthankn keadaanmu sifat dn sikapmu,walau nnti dgn prestasimu mgkn kau mnjd seorg jendral Reply · · 1 · 18 hours ago Suwondo Pati Gheni · Top Commenter semoga istiqomah dan amanah nak. Amiiin. Reply · · 2 · Yesterday at 3:10pm Ghinda Lestya Nadorra · Perawat Propesional at Perawat Propesional Indonesia Semga mnjdi byngkra yg brsh n renda ht sllu bripda taufik.smngtmu mnjdi inspirsi untk orng2 yg mndngr n mmbca ksh2mu ini. Reply · · 1 · Yesterday at 2:57pm Jhon Elangbari Heri · Top Commenter · Spionase at Kepresidenan RI waw kisah yg sangat menyentuh, semoga bripda taufik selalu ingat tujuanya knapa jadi polisi yaitu utk keluarganya, dan tentunya jg utk nusa dan bangsa. semoga menjadi polisi yg bersih dan berhasil dgn cita2nya menjadi perwira dan semoga selalu merunduk bagaikan padi. SALUT Reply · · 1 · Yesterday at 9:32am Mawar Berduri Mawar · Works at PT. Mencari Cinta Sejati Sedih bngt bca kisahx Reply · · Yesterday at 6:18am Beny Mediacom · Top Commenter · Madiun True story ... Reply · · Yesterday at 4:19am Rheina Chaby · SMA Negeri 2 Kroya Mengharukan Reply · · Yesterday at 2:27am Jomplangan OverSevur Sumberejo · Top Commenter · SETAP SETASIUN at Penjaga Perlintasan Kereta Api SumberRejo BojoneGoro kamu harus berubah fiq, jangan tetap jadi bripda taufiq... harus bisa jadi briptu,ipda sampai komisaris polisi ...