Green Technology Untuk Menyelamatkan Bumi

Teknologi hijau atau green technolgy kini sangat akrab di telinga masyarakat. Apabila anda mendatangi sebuah toko elektronik, maka akan bermunculan produk-produk yang berlabelkan green technolgy. Mulai dari hemat listrik hingga bahan yang dipakai merupakan bahan daur ulang. Di Indonesia pun teknologi hijau mulai digerakkan hampir dalam satu dekade ini agar seluruh produk teknologi harus ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Presiden Yudhoyono saat mengambil inisiatif untuk jadi tuang rumah Konferensi Perubahan Iklim di Bali pada tahun 2007, telah menegaskan perlunya percepatan pengembangan mobil ramah lingkungan seperti mobil ramah lingkungan seperti Mobil Hibrida dan Mobil Listrik untuk mengurangi beban subsidi bahan bakar minyak. Apalagi hasil riset IPCC (the Intergovernmental Panel on Climate Change) menunjukkan 80% emisi karbon yang dihasilkan berasal dari aktivitas manusia, terutama pemakaian energi fosil yang cukup besar dalam 100 tahun ini. Sumber energi fosil utama adalah bahan bakar minyak.

Presiden kembali mengeaskan sikpanya dalam pidato Hari Kebangkitan Teknologi Nasional di Bandung, yang menyatakan, "Last but least, yang terkahir, yang disebut masalah energi terbarukan, masalah green car, saya sungguh mendorong agar Indonesia dalam waktu lima tahun mendorong ini, sudah bisa memproduksi sendiri. Boleh pada hal-hal tertentu produksi bersama, Joint Production dengan negara lain untuk Green Car. Hybrid system yang sangat efisien dalam penggunaan BBM, sehingga tidak membebani negara, juga baik untuk lingkungan," kata Presiden. Kemudian, lanjut Presiden, yang kedua Electric Car yang bisa digunakan di lokalitas-lokalitas tertentu. "Tentunya sangat baik sehingga transportasi kita yang terus bertambah jumlahnya itu, di satu sisi sangat efisien untuk mengurangi konsumsi BBM. Sekaligus berkontribusi untuk lingkungan," tegas Presiden.

Apa yang diinginkan dalam hal teknologi hijau, telah direspon posisif Kementrian Riset dan Teknologi, bahwa pengembangan teknologi harus bisa dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk rakyat. Teknologi akan menjadi the biggest driver for change. Kecendrungan ini akan terus menguat karena proses pengembangan teknologi tidak akan pernah berhenti. Di sini diperlukan elaborasi perkembangan, tantangan, dan peluang teknologi terkati dengan strategi pengembangan, yang berpihak pada lingkungan, yakni green technology. Teknologi hijau ramah lingkungan.

Kemudian juga akan menambahkan teknologi yang melahirkan banyak onovasi dan menunjang kehidupan sehari-hari. Demikian juga dengan teknologi hijau tersebut mencakup bidang-bidang antara lain energi terbarukan (reneawable energy, termasuk di dalamnya pengembangan bahan bakar alternatif. Ini akan menjadi masalah mendesak, terutama teknologi hijau, mengingat keterbatasan sumber energi berbahan baku fosil. Bahkan diperkirakan sumber BBM akan habis dalam kurun waktu 12 tahun. Untuk menindaklanjuti arahan Presiden, sejumlah kementrian mulai menggeliat membuat mobil ramah lingkungan bertenaga listrik dengan menggandeng tim mobil listrik nasional dari berbagai perguruan tinggi. Kementrian Ristek dan Teknologi bersama LIPI mengembangkan mobil listrik yang diberi nama Hevina.Mobil listrik Hevina buatan LIPI yang sudah dipakai di Taman Pintar Yogyakarta mulai 20 Mei lalu. Mobil listrik buatan LIPI ini merupakan salah satu contoh lahirnya teknologi hijau yang berkelanjutan.

Adapun untuk pengisian baterai listriknya, memakai jasa charger (pengisian listrik) yang dibangun PT PLN. bidang lain yang harus diperhatikan juga adalah bangunan hijau ramah lingkungan (green building). Segala sesuatu yang berkaitan dengan pembangunan rumah atau infrastruktur ramah lingkungan, harus dimulai sejak pemilihan bahan bangunan hingga lokasi pendirian rumah harus mempertimbangkan kelestarian lingkungan hidup. Jangan membangun rumah di bantaran kali. Itu contoh sederhana.

Tidak ketinggalan kimia hijau atau green chemistry juga penting. Pasalnya hampir seluruh produk keperluan sehari-hari adalah produk kimiawi. Untuk itu di negara-negara maju, kimia hijau telah menjadi perhatian besar. Controhnya pemakaian pupuk tanaman pertanian, kini sudah beralih ke pupuk organik. Tanaman organik pun kini berkembang pesat sebagai bagian dari upaya mengembangkan kimia hijau. Kemudian teknologi nano hijau atau green nanotechnology, yakni penerapan kimi hijau tingkat lanjut dengan prinsip-prinsip rekayasa teknologi ramah lingkungan. Contoh dalam pengadaan sumber air minum di daerah rawan kekeringan atau pulau terpencil, saat ini paling ideal memakai teknologi nano hijau.

Beberapa teknologi yang sudah dikembangkan seperti biogas, energi alternatif untuk listrik dari sumber angin, air, biomassa, panas bumi, dan lainnya. Bahkan di Puspitek (pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan Teknologi), sudah kami ajari bagaimana membuat pupuk kompos dari sampah yang dihasilkan rumah tangga, dan produknya dijual.
Belum lama ini Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) mengembangkan energi baru untuk kelistrikan yakni Hidrogen, bahwa di Indonesia pengembangan hidrogen sebagai alternatif untuk listrik maupun bahan bakar alternatif belum dimaksimalkan, padahal nilai ekonominya tinggi.
Bahan baku hidrogen sangat mudah didapat dari alam. Apabila hidrogen dimanfaatkan untuk bahan bakar kendaraan, maka efeknya sangat ramah lingkungan dan tingkat pencemarannya sedikit. Di Jepang, perusahaan-perusahaan otomotif sudah melakukan pengembangan riset energi alternatif hidrogen untuk bahan bakar kendaraan. Contohnya Suzuki yang sudah mempersiapkan pabrik otomotif itu bekerja sama dengan Intelligent Agency untuk memproduksi bahan bakar hidrogen dalam skala besar.                                                                 

Sumber dari media iptek
world tour booking flights and hotels
Travel Indonesian
Bisnis Tiket Pesawat Di Rumah