Toko Handphone di Singapura Tipu Konsumen

 
Seorang pemilik jaringan toko iPhone Singapura, Mobile Air, yang menipu belasan konsumennya, kini di-bully oleh para pegiat media sosial. Jover Chew kini menjadi topik pembicaraan di internet, terkait dengan praktik bisnisnya yang curang.

Dilansir dari The Straits Times, Jumat 7 November, berita tentang seorang turis Vietnam yang menjadi korban penipuan di Singapura saat akan membeli sebuah iPhone 6, kini menjadi berita utama internasional.

Berbagai media internasional Inggris, Australia dan China, serta sedikitnya 10 media besar Vietnam membahas kecurangan praktik bisnis toko-toko di Singapura, serta buruknya penanganan kasus penipuan oleh otoritas Singapura.

Berbagai media internasional dalam laporan mereka, menyebut insiden penipuan turis Vietnam itu telah mengguncang Singapura, yang selama ini banyak bergantung pada pemasukan dari sektor pariwisata.

Selain mendorong aksi donasi bagi turis Vietnam, Pham Van Thoai, masyarakat internet juga kini bergerak untuk menghukum pemilik toko Mobile Air, Jover Chew, dengan menyebarkan berbagai informasi pribadinya.

Mulai dari jumlah toko yang dia miliki, bisnis apa saja yang dia jalani, alamat rumah, nomor telepon, bahkan foto-fotonya yang tanpa busana. Tidak hanya Jover, istrinya juga ikut diserang pada berbagai forum online serta media sosial seperti Facebook dan Twitter.

Selain Mobile Air, Jover juga memiliki jaringan toko J2 Mobile yang dikelola atas nama istrinya. Namun pada akun facebooknya, istri Jover menulis pembelaan diri dan menyebut bahwa dia tidak terlibat dengan bisnis Mobile Air.

"Bagi semuanya, ini telah sangat mengganggu bagi J2 Mobile. Kami selalu menjalankan bisnis kami dengan adil dan transparan. Tidak pernah mencurangi konsumen kami. Konsumen kami selalu sangat puas dan senang dengan pelayanan kami," tulis istri Jover.

Dia juga mengumumkan bahwa J2 Mobile tidak memiliki hubungan bisnis dengan Jover Chew. Istri Jover juga menyebut telah melaporkan serangan terhadapnya di internet pada polisi.
 
http://dunia.news.viva.co.id/news/read/555737-pria-jujur-ini-ditipu-toko-penjual-iphone-di-singapura
Pada Kamis, 6 November, hampir $10.000 atau sekitar Rp 120 juta terkumpul dalam aksi pengumpulan donasi di internet bagi seorang turis Vietnam. Dia menjadi korban penipuan toko penjual iPhone di pusat perbelanjaan Sim Lim Square, Singapura.

Dilansir dari The Straits Times, insiden bermula saat seorang buruh pabrik Vietnam bernama Pham Van Thoai berniat membeli sebuah iPhone 6 sebagai hadiah ulang tahun untuk pacarnya saat berlibur di Singapura, pada Senin 3 November lalu.

Dia mengaku memang telah mempersiapkan kejutan itu sejak beberapa bulan lalu, dengan menabung sebesar $950 yang setara dengan lima bulan gajinya.  Pham yang berusia 30 tahun terkejut ketika akan meninggalkan toko yang bernama Mobile Air itu.

Sebab dia tidak boleh membawa iPhone yang dibelinya, sebelum membayar biaya tambahan sebesar $1.500 atau sekitar Rp 18,3 juta yang disebut sebagai biaya garansi. Kebahagiaan Pham sirna seketika.

"Saya hanya buruh pabrik dengan gaji $200 sebulan. Itu ($1.500) jumlah yang sangat besar bagi saya. Saya sungguh sangat sedih," kata Pham pada surat kabar China Lianhe Zaobao, Senin. Dia mengakui sebelumnya disuruh menandatangani perjanjian oleh pihak toko.

Namun karena tidak lancar dalam berbahasa Inggris, dia tidak mengetahui jika isi perjanjian itu akan menjebaknya. Dia juga tidak memiliki praduga buruk karena berpikir bahwa Singapura adalah tempat yang aman untuk berbelanja.

"Saat mereka mengatakan apakah Saya menginginkan garansi satu atau dua tahun, Saya mengira garansi satu tahun diberikan secara cuma-cuma sehingga Saya menjawab satu tahun. Dia (pemilik toko) juga tidak mengatakan Saya harus membayar untuk itu," kata Pham.

Saat mengetahui bahwa dia harus membayar biaya tambahan untuk membawa pulang iPhone 6 yang dibelinya, Pham langsung berlutut memohon uangnya dikembalikan. Tapi dia malah ditertawakan oleh pemilik dan para penjaga toko.

Mobile Air yang memiliki beberapa toko tersebar di Singapura itu, kemudian menawarkan untuk mengembalikan sebesar $600 padanya. Tapi pacar Pham menolak untuk pergi hingga seluruh uang pembelian dikembalikan, serta memanggil polisi.

Saat polisi tiba, penjaga Mobile Air mengklaim bahwa Pham telah menandatangani perjanjian dengan mereka. Pada perjanjian itu diatur bahwa pihak toko hanya akan membayar $70 jika pembeli mengembalikan barangnya.

Akhirnya kasus itu dibawah ke Asosiasi Konsumen Singapura (Case), yang sayangnya tidak berpihak pada Pham. Perjanjian yang menipu dan menjebak konsumen itu tidak dibatalkan oleh otoritas Singapura, yang malah membela toko.

Case hanya memerintahkan Mobile Air untuk membayar $400, atau kurang dari setengah harga pembelian. "Saya harus pulang dalam dua hari dan tidak menginginkan ada masalah, jadi saya memutuskan untuk menerima keputusan itu," kata Pham.

Case mengatakan ada 14 laporan keluhan antara Juli hingga September terhadap Mobile Air, yang merupakan salah satu jaringan pertokoan terbesar di Singapura.

Aksi Donasi
Rekaman video yang memperlihatkan Pham berlutut memohon pengembalian uangnya, kemudian menyebar dengan cepat di internet. Selain menghukum pemilik Mobile Air dengan menyebarkan kecaman, komunitas dunia maya pun bergerak mengumpulkan donasi bagi Pham.

Kampanye pengumpulan donasi dimulai di situs Indiegogo, pada Senin. Bantuan pun segera berdatangan hanya dalam beberapa menit. Bahkan pada Kamis terkumpul hampir $10.000. Tapi Pham menolaknya.

Pham mengatakan dia telah menerima bantuan sebesar $550 dari seorang pengusaha, pada Kamis, dan telah membeli sebuah iPhone dengan uang itu. Dia mengatakan tidak akan menerima lagi bantuan lain.

"Saya kehilangan $550. Jadi saya hanya menerima $550 yang didonasikan oleh seorang yang baik. Tidak lebih. Saya bersyukur atas kebaikan anda semua, tapi saya tidak mau mengambil lebih dari uang saya yang hilang," ucap Pham.
=============== 

Selain turis Vietnam yang kini menjadi pusat perhatian di internet, ada belasan korban penipuan lain Mobile Air, jaringan toko penjual iPhone di Singapura. Diantaranya seorang wanita bernama Zhou.

Dilansir dari The Straits Times, Minggu 2 November 2014, Direktur Eksekutif Asosiasi Konsumen Singapura (Case) Seah Seng Choon, mengatakan sedang menyelidiki apakah Mobile Air melanggar Undang-Undang Perlindungan Konsumen.

Penyelidikan terkait dengan laporan seorang turis perempuan asal China, Zhou, yang membeli sebuah iPhone 6 Plus seharga US$1.600 atau hampir Rp 19,5 juta. Dia terkejut ketika Mobile Air juga mewajibkannya membayar US$2.400 atau Rp 29,1 juta.

Biaya tambahan itu disebut untuk harga garansi selama dua tahun. Tidak terima dicurangi, Zhou meminta uang pembelian dikembalikan. Tapi Mobile Air kemudian hanya bersedia mengembalikan sebesar US$1.000.

Zhou memutuskan untuk membuat laporan pada pengadilan administrasi (Small Claims Tribunal), pengadilan yang dibentuk untuk menangani gugatan dengan nilai materi di bawah Sin$20.000.

Pengadilan kemudian memerintahkan Mobile Air untuk mengembalikan US$1.010 pada Zhou. Walau keberatan dengan keputusan pengadilan yang tidak memerintahkan pengembalian dana secara penuh, Zhou terpaksa menerima.

Tapi saat akan mengambil pengembalian dana, Mobile Air memberikannya dalam bentuk koin sekantung penuh. Tidak berhenti di situ, kantung juga diberikan dengan cara dilempar ke lantai sehingga koin berserakan.

Sementara Zhou mengumpulkan koin yang berserakan, para penjaga toko mempermalukannya dengan mengeluarkan kata-kata cemoohan, sehingga Zhou pun memanggil polisi. Sayang tidak ada tindakan hukum terhadap para penjaga toko.

Praktik bisnis curang yang dilakukan Mobile Air kini tengah menjadi pembicaraan di internet, terutama dikaitkan dengan jaminan keamanan bagi para konsumen yang ingin berbelanja di Singapura.

Choon mengatakan antara Juli hingga September, ada 14 laporan terkait praktik bisnis Mobile Air, di mana konsumen diminta untuk menandatangani perjanjian garansi atas telepon selular yang mereka beli.

Tapi tidak jelas mengapa otoritas Singapura tidak mengambil tindakan apapun terhadap Mobile Air. Keputusan pengadilan Singapura yang tidak memerintahkan pengembalian dana secara penuh juga dianggap memprihatinkan.

Pada kasus Zhou pengadilan memerintahkan pengembalian dana hanya 60 persen. Lebih parah lagi, pada kasus turis Vietnam bernama Pham Van Thoai, Case bahkan hanya memerintahkan pengembalian dana sebesar 24 persen saja.

Pham membeli sebuah iPhone 6, pada Senin 3 November 2014, dengan harga US$950. Tapi kemudian dia diminta membayar US$1.500 untuk biaya garansi selama setahun. Pham kemudian meminta uangnya dikembalikan.

Pham bahkan harus berlutut memohon uangnya dikembalikan. Tapi dia malah ditertawakan oleh pemilik dan para penjaga toko. Polisi Singapura kemudian membawa kasus itu pada Case yang malah membela pihak toko, dengan hanya memerintahkan Mobile Air untuk membayar US$400 saja.

Maka berhati-hatilah ke SINGAPURA