Paradox HUTANG


Nak, kamu tahu paradox hutang? Ia tidak memberikan kebebasan tapi mengekangmu. Apalah arti kehidupan tanpa kebebasan. Aku katakan ini karena hutang menciptakan ilusi. Ketika kau berhutang mungkin kau bisa memenuhi semua keinginan dan kebutuhanmu namun pada waktu bersama kau tidak menikmati kebebasan lagi.

Hari harimu adalah menjadi bagian dari orang yang memberimu hutang. Pada waktu bersamaan, jiwamu tersandera oleh ilusi tentang kemudahan berkonsumsi dari berhutang.Hutang akan terus mengalir sampai pada batas kau tidak layak diberi hutang. Saat itulah kebebasanmu benar benar tersandera. Tapi kau tetap tidak akan menyadari itu. Kau akan terus mencari jalan untuk terus berhutang walau dengan syarat yang tidak masuk akal.Tapi apa pedulimu soal syarat. Syarat adalah sebuah realitas tentang siapa dirimu tapi kau tidak hidup dalam realitas tapi dalam ilusi.

Coba kamu bayangkan,Nak. Sejak rezim Soeharto sampai terakhir era SBY, hutang kita sudah menggunung sampai pada batas tidak layak lagi berhutang. Bagaimana tidak, coba kamu bayangkan bahwa setiap 100% ekspor negeri ini yang didapat dari menguras semua sumber daya , baik sumber daya alam sampai sumber daya manusia , 45% nya habis untuk membayar bunga dan cicilan kepada segelintir orang yang jumlahnya hanya sebanyak jari ditanganmu. Setiap hari Rp.300 miliar bunga yang harus dibayar kepada mereka. Mereka hanya tidur tiduran menikmati kerja keras ratusan juta rakyat dan jutaan pengusaha. Jangan salahkan mereka tapi kitalah yang salah karena kita hidup dalam ilusi berhutang dan mereka piawai memanfaatkan ilusimu.

Dan, kini Nak, apa yang terjadi pada negeri ini? Kita tidak percaya kepada kreatifitas berproduksi, sehingga kita lebih suka import dari luar. Beli yang sudah jadi. Akibatnya kita lebih banyak import daripada eksport.Kita defisit, alias tekor. Anggaran belanja kita lebih besar pengeluaran konsumsi daripada investasi. Pengeluaran lebih besar daripada pemasukan.Kita defisit,alias tekor. Orang yang otaknya waras dan sedikit culas, sadar bahwa negeri ini tidak lagi sehat lahir batin, maka mereka pindahkan kas nya keluar negeri. Orang asing tidak lagi senang dan yakin untuk investasi dengan membawa modal karena mindset berhutang negara tidak memberikan harapan apapun dimasa depan. Uang real masuk untuk investasi berkurang, uang real yang ada terbang keluar, kita defisit account, alias tekor. Mata uang kita terus melemah karena kehilangan trust.Tak ada lagi kurs rupiah tertera di table counter hotel di luar negeri atau airline international.

Itulah keadaan real kita sekarang. Pahamkah kamu? Hutang tidak hanya merusak akal tapi juga sudah merusak jiwa. Bukan hanya jiwa para pemimpin yang rusak tapi juga jiwa rakyat. Mengapa ? menyelesaikan hutang dengan hutang tidak akan menyelesaikan masalah.Bahkan semakin membuat rantai besi dikakimu semakin berat untuk bisa bebas melangkah. Kalau kau waras maka hanya satu solusinya, yaitu kurangi belanja,hiduplah prihatin, kekang selera dan pada waktu bersamaan tingkatkan akal dan tenaga untuk bekerja keras guna meningkatkan pendapatan. Tapi ini dicibirkan ketika subsidi konsumsi dikurangi dan dialihkan untuk produski. Negeri kita kaya dan masih banyak yang bisa dikembangkan untuk membayar kesalahan masa lalu.Tapi kita harus keluar dari kesalahan masa lalu. Jangan lagi hidup dari illusi dan paksa pemerintah memanjakanmu dengan harga diskon lewat berhutang. Kini kita harus paksa negara untuk memberikan lingkungan berusaha yang memungkin mencari nafkah mudah dan kamu sanggup membayar apapun dengan jiwa yang merdeka.

Aku dan juga Jokowi adalah generasi yang gagal yang membuat setiap orang kini menanggung hutang lebih dari Rp.7 juta. Tapi tidak usah kawatir, Jokowi bukan ahli tapi dia bisa belajar dari kesalahan masalalu dan dia ingin kita semua berubah , walau didepan jalan terjal menghadang dan melelahkan yang harus dilewati namun yang penting kita hidup dalam realita dengan akal yang sehat dan jiwa yang merdeka. Sudah saatnya kita menikmati kebebasan berkosumsi dari keringat kita sendiri,walau itu hanya sesuap nasi, bukan karena hutang, bukan pula karena belas kasihan.Setidaknya hari ini kita menjadi waras dan tentu besok ada harapan..yakinlah (pen.Erizeli Bandaro)