Kepulauan Seribu Sabira - Sebira


Kepulauan Seribu adalah gugusan pulau yang paling jadi favorit wisatawan Jakarta dan sekitarnya. Di antaranya banyak pulau di sana, ada satu yang paling cantik, masih perawan dan berada di paling utara: Pulau Sabira.

Pulau Sabira atau yang juga disebut Pulau Sebira, adalah pulau paling utara di Kabupaten Kepulauan Seribu, makanya kerap disebut sebagai “Pulau Penjaga Utara”. Pulau ini tepatnya berada di Kelurahan P. Harapan, Kecamatan P. Seribu Utara, Kabupaten Administratif Kepulauan Seribu, Provinsi DKI Jakarta.


Berada paling jauh dari garis pantai Jakarta inilah yang membuatnya jarang dikunjugi wisatawan. Hasilnya, jadilah Pulau Sabira masih ‘perawan’ sampai saat ini. Walau terlihat keindahan alamnya masih perawan karena jarang sekali ada wisatawan, namun disana sudah ada penduduknya yang berjumlah 1.000 warga.

Warga Pulau Sabira terkenal jago membuat ikan asin dan memang terkenal enak. Biasanya, nanti ikan asin itu akan dibawa warga Pulau Sabira ke Jakarta untuk dijual setiap seminggu sekali. Sebab kapal dari Pulau Sabira ke Pelabuhan Kamal Muara di Kecamatan Kamalmuara, Jakarta Utara, cuma beroperasi seminggu sekali.

Semua itu berlaku karena pulau ini adalah pulau paling jauh dari daratan Jakarta. Dari Pelabuhan di Kamal Muara, Pulau Sabira berjarak enam jam perjalanan. Dari Pulau Harapan sekitar tiga jam. Bahkan letak pulau ini lebih dekat ke Lampung, hanya satu jam perjalanan saja.

Di Pulau Sabira, Awalnya Hanya Boleh Dirikan Tenda


Pada masa penjajahan Belanda, biasa menyebut pulau seksi dan cantik tersebut sebagai Noord Watcher yang memiliki arti ‘Penjaga Utara’. Selain itu, pulau yang memiliki luas sekitar 9,5 hektar ini juga mempunyai menara mercusuar setinggi 42 meter yang masih berdiri tegak sejak peninggalan kolonial Belanda yang membangunnya pada tahun 1869 di masa pemerintahan Raja Willem III.

Mercusuar ini difungsikan sebagai tempat pengawas kapal asing yang hendak berlabuh. Keindahan alam dan banyaknya jenis ikan di perairannya menjadi alasan nelayan mulai mendatangi sdan kemudian bermukim di pulau tersebut.

Awalnya ada seorang nelayan bernama Joharmansyah, melaut di perairan Pulau Sabira. Joha biasa dirinya disapa, ketika itu melihat banyaknya potensi di pulau yang terletak di ujung utara Kepulauan Seribu ini.

Pada tahun 1974, warga Pulau Genteng yang pertama datang ke Pulau Sabira. Tapi nelayan dari Pulau Genteng hanya mencari ikan, setelah mendapat hasil tangkapan, lalu pulang. Waktu dulu di Pulau Sabira, hanya ada hutan dan mercusuar dan tidak mudah nelayan diperbolehkan untuk bermukim di Pulau Sabira.

Namun perjuangan  seorang nelayan bernama Joharmansyah ini tak pantang lelah, dibarengi dengan niat baik dan tekad yang besar membuahkan hasil. Awalnya harus menyetorkan hasil tangkapan ikannya sebanyak 1 kwintal yang 10 kilogram di antaranya diberikan kepada petugas navigasi menara mercusuar.

Pada tahun 1975, perlahan-lahan mereka memilih meninggalkan Pulau Genteng besar akibat adanya desakan dari pemerintah Kepulauan Seribu untuk meninggalkan pulau tersebut dan pindah di Pulau Sabira pada tahun 1975 dan bermukim di sini.

Untuk membuat rumah memang tidak diperbolehkan, jadi nelayan hanya sekedar membuat tenda. Akhirnya pelan-pelan nelayan bisa membuka lahan di sini dan membuat rumah yang sebelumnya tidak diperbolehkan oleh petugas navigasi.

Awal penduduk di Pulau Sabira hanya berjumlah 22 jiwa yang sebelumnya merupakan warga Pulau Genteng Besar. Sebenarnya, penduduk di Pulau Genteng Besar diberikan ganti rugi untuk berpindah ke Pulau Pemagaran pada tahun 1975 itu. Namun mereka menolak dan lebih memilih untuk pindah ke Pulau Kelapa Dua dan Pulau Sabira.

Jadi para nelayan terbagi dua. Ada yang ke Pulau Kelapa Dua, dan ada yang ke Pulau Sabira. Sebelumnya kita diberi pulau yaitu Pulau Pemagaran pada tahun 1975 tapi warga tak ada yang mau, menurut warga di situ kurang bagus dan tidak ada potensi besar untuk kehidupan karena tidak adanya ikan, sehingga mereka tidak ada tangkapan sehari-hari, oleh sebab itulah akhirnya para nelayan pindah ke Pulau Sabira.

Sekitar tahun 1984 Pemerintah Bandar Lampung pernah datang ke sini dan menawarkan untuk berpindah kependudukan dari DKI Jakarta menjadi penduduk Bandar Lampung. Bupati, Kapolres, Danramil Lampung sudah datang kesana, tapi warga tetap tak mau karena hasil tangkapan mereka dijual ke Muara Angke dan Kamal Muara di Jakarta, selain itu mereka juga sudah memiliki KTP DKI Jakarta.

Kini, seluruh penduduk Pulau Sabira berprofesi sebagai nelayan dan usaha pengasinan ikan (ikan asin). Pulau tersebut memiliki jumlah penduduk 523 jiwa yang kebanyakan dari mereka berasal dari Bugis, Sulawesi Selatan. Namun, kehidupan penduduk di Pulau Sabira tidak tertinggal jauh dari penduduk yang berada di daratan. Walaupun jauh dari daratan, kehidupan di sana sangat erat dan dipimpin oleh satu Ketua Rukun Warga (RW) dan 4 Rukun Tetangga (RW).

Menyusuri Pulau Sabira, Pulau Terluar nan Indah di Provinsi DKI Jakarta Yang Jarang Dikunjungi Wisatawan

Begitu tiba di Pulau Sabira, warga dan deretan kapal-kapal nelayan seakan menyapa Anda. Yup, anda adalah orang asing disana dan tentu saja anda adalah seorang turis. Tentu saja, warga sekitar yang sudah berkumpul di area dermaga dan siap memberikan senyuman.

Maklum, pulau ini jarang dikunjungi wasatawan dan mereka menyambut anda bagai seorang tamu agung. Alamnya pun masih asri bahkan beberapa wasatawan bilang ‘masih perawan’.

Begitu masuk ke dalam pulau, terlihat deretan rumah kayu yang berjejer. Rata-rata di sini, rumahnya tingkat. Boleh dibilang, “kampung” di sini rapi dan bersih. Seorang warga yang juga ketua RW, Ibu Hajjah Hartuti (68 tahun), rumahnya terkadang digunakan para traveller untuk beristirahat.

Ibu Hajjah sudah tinggal di Pulau Sabira ini sejak tahun 1978. Ia menyatakan bahwa dulu pulau ini luasnya 10 hektar, sekarang tinggal 8,5 hektar.

Kini, ada 152 KK dengan jumlah jiwa sebanyak 555 jiwa. Selain itu, beliau bercerita bahwa di Pulau ini tidak ada pasokan listrik. Tapi, listrik berasal dari PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya) dan PLTD (Pembangkit Listrik Tenaga Diesel).

Di beberapa titik memang terlihat PLTS, yang bentuknya menyerupai atap. Ada di  dekat masjid, sekolah, dan sebagainya. Dari pagi sampai sore, mereka menggunakan listrik dari PLTS. Tapi, itu kalau ada matahari, kalau tidak, ya, tidak ada pasokan listrik. Dari jam 17.00 sampe jam 07.00 pagi, mereka mengunakan PLTD.  Tapi kalau musim hujan kacau listrik di sini bahkan sering mati.

Dari segi pembayaran listrik, penduduk Pulau Sabira menyetorkannya kepada ketua RW lalu disetor kepada petugas yang memberikan PLTS dan PLTD.

Ada yang membayar per hari ada pula yang membayar per bulan. Penduduk di sini bayar sehari Rp 1000 sampai Rp 1500 per hari, ada pula yang bayar Perbulan Rp 20 ribu sampai Rp 30 ribu.

Mari menyusuri pulau ini. Sepanjang perjalanan, akan benar-benar merasakan “Kampung Nelayan”. Ya! selain pakaian yang dijemur tentunya, ada ikan-ikan selar dijemur lalu ada juga kerupuk ikan yang dijemur.

Begitu melewati masjid Nurul Bahri, yang diarealnya terdapat PLTS, pandangan akan tertumbuk pada mercusuar berwarna putih. Suasana benar-benar sepi. Yang terdengar cuma deburan ombak aja. Hiiii..!

Perjalanan dilanjutkan menyusuri pinggir pantai yang sudah ditembok pendek, seperti benteng. Tak jauh dari lepas pantai, terdapat sebuah pohon yang tumbuh sendirian. Pohon yang misterius.

Jelas bukan pohon bakau, namun apapun jenis pohonnya ia berusaha untuk hidup dari air laut yang asin di sisa hidupnya. Jika dilihat dari garis pantai, sepertinya pohon itu pada masa lalu berada di daratan.

Akibat abrasi laut, maka garis pantai semakin susut ke darat dan pohon itu tetap bertahan untuk hidup dengan sisa kekuatannya. Life will find the way. Lalu, agar pulau tak habis oleh abrasi dan deburan ombak, maka dibuatlah tembok pendek sebagai penangkal ombak.

Di pulau ini juga terdapat sekolahan. Tak disangka, sekolahnya ini lebih bagus dari kebanyakan SD dan SMP Inpres di Kota Jakarta. Namanya SD-SMP Negeri Satu Atap 02, Pulau Sabira. Sekolahnya ini berlantai keramik putih. Ada pula alat peraga yang lengkap.

Bahkan, dilengkapi dengan pendingin ruangan (AC). Sayangnya, minimnya listrik di Pulau Sabira ternyata berimbas juga pada terganggunya fasilitas sekolah ini, ketika itu AC tidak dapat digunakan setiap saat, karena bergantung pada kondisi PLTS.

Tiadanya fasilitas laboratorium komputer juga akibat dari minimnya pasokan listrik di Pulau tersebut. Jika AC atau komputer dinyalakan, listrik langsung mati. Namun kelasnya benar-benar bersih.

Dan hebatnya, terlihat anak-anak pun begitu bersemangat bersekolah. Yang memprihatikan, gedung yang ‘wah’ tak sepadan dengan tenaga pengajar.

Di sini gurunya hanya 7 orang! Padahal siswanya bisa ratusan. Jadi, ada guru yang mengajar dobel, SD dan SMP. Ketika lulus SMP, rata-rata anak-anak di sini pergi ke Pulau Pramuka atau ke Jakarta untuk melanjutkan sekolahnya.

Menelisik Mercusuar si “Penjaga Utara”

Penjaga Utara. Itulah ungkapan yang disandang Pulau Sabira dari Kolonial Belanda sekira 1,5 abad lalu. Julukan yang diemban oleh pulau yang tadinya seluas 10 hektar, 9,5 hektar hingga kini 8,5 hektar akibat abrasi laut ini, karena posisinya yang berada paling utara di Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu.

Untuk memperkuat gelar itu, Belanda membangun sebuah mercusuar bernama Noord Wachter pada tahun 1869 di masa pemerintahan Raja Willem III. Mercusuar ini difungsikan sebagai tempat pengawas kapal asing yang hendak berlabuh. Meski usia benda peninggalan sejarah ini terbilang tua, namun masih bisa berdiri tegak hingga ketinggian sekitar 50 meter atau tepatnya 42 meter itu.

Hanya saja bagian dalamnya cukup memprihatinkan. Pantauan pada Jumat (6/6/2014) siang menunjukkan, lapisan cat di sekeliling mercusuar berbahan besi itu sudah mulai terkelupas. Bahkan di bagian yang terkelupas, besinya sudah menguning dan berkarat. Di atas pintu masuk mercusuar, terpampang jelas tulisan bahasa Belanda yang ditempel menggunakan plakat besi.

“Onder De Recering Van Z.M Willem III Koning den Nederlande, ENZ., EnZ., ENZ., Opcerict Voor Draaslicht 1869.”

Dari informasi penjaga mercusuar bernama Langgeng (34), arti dari tulisan itu adalah ‘Di bawah kekuasaan Raja Z.M Willem III dari Belanda. Didirikan untuk suar lampu pendar 1869′.

Menurut Langgeng, selain dibangun saat penjajahan Belanda, bahan baku mercusuar ini juga dibawa langsung dari negeri Kincir Angin menggunakan kapal uap. Saat masuk ke lantai dasar, hawa pengap dan tipisnya oksigen mulai menganggu pernafasan.

Kondisi lantai dasar saat itu berantakan dan dipenuhi peralatan yang bisa mendukung operasional mercusuar, seperti kabel, dinamo dan besi bekas. Tak jauh dari pintu masuk, terlihat ratusan anak tangga menanjak dengan posisi 60 derajat ke bagian paling atas mercusuar. Berdasarkan penuturan Langgeng, diketahui ada 210 anak tangga di mercusuar itu.

Ratusan anak tangga itu menempel di sepanjang tepian mercusuar hingga ke bagian atas. Apabila dilihat dari bawah mau pun atas, tangga berbahan besi itu tampak meliuk-liuk menyerupai gerakan seekor ular. Meski terlihat unik, namun kondisi tangganya sangat memprihatinkan.

Dari 210 anak tangga, tercatat ada tiga anak tangga yang patah. Bahkan dua diantaranya, diganjal menggunakan bangku bekas yang terbuat dari besi. Agar tak goyah, bangkunya diikatkan ke teralis tangga maupun anak tangga yang masih ada menggunakan beberapa helai kawat. Namun sayang kondisi buruk tidak hanya di bagian tangga saja, teralis besi di sepanjang anak tangga juga tampak karatan.

Bahkan sambungan las teralis itu ada yang terkelupas, sehingga bisa mengancam keselamatan penjaga yang hendak naik ke atas. Curamnya anak tangga dan minimnya udara, membuat sang penjaga mercusuar bernafas tersengal-sengal saat mendaki tangga.

Terkadang harus beristirahat di tengah jalan sambil menghirup oksigen melalui jendela di beberapa dinding mercusuar. Setelah beberapa menit beristirahat, perjalanan keatas dilanjutkan. Tepat 10 menit kemudian, barulah sampai di leher mercusuar. Jarak antara leher dengan puncak mercusuar sekitar 5 meter. Di sini bisa beristirahat bebas, karena bagian bawah yang dipijak terlapisi lempengan besi yang mengelilingi ruang mercusuar.

Rasa sesak di dada juga berangsur menghilang, ketika ada hembusan angin kencang melalui empat daun jendela di titik ini. Sang penjaga mercusuar pun tidak mengetahui pasti, ruang ini diperuntukan sebagai tempat apa. Usai beristirahat, perjalanan dilanjutkan kembali. Hanya beberapa menit saja, langsung tiba tepat di ruang lampu mercusuar yang berada di puncak.

Posisi lampu suar berada persis di tengah-tengah ruangan. Ketika beroperasi, lampu ini akan menyala kelap-kelip menyeruak dari dalam kaca kristal yang membungkusnya. Apabila menengok lebih dalam, ukuran bohlam lampu pijar cukup besar, seperti botol kemasan air mineral 1,5 liter.

Meski terbilang tua, namun rangkaian lampu pijar ini masih bisa beroperasi maksimal. Kekaguman tidak hanya pada benda peninggalan sejarah ini saja. Namun keindahan penorama di Pulau Sabira dan laut terlihat melalui balkon mercusuar.

Dalam hitungan detik, pengunjung langsung bisa melihat seluruh permukaan Pulau Sabira. Disela-sela waktu istirahatnya di balkon mercusuar, Langgeng mengakui bangunan peninggalan zaman kolonial Belanda ini belum pernah diperbaiki oleh pemerintah Indonesia.

Bahkan Direktorat Jendral Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan RI selaku pengelola mercusuar ini pun jarang menyambanginya. Meski demikian, apabila bohlam ini mati UPT kenavigasian di lingkungan Direktorat Jendral Perhubungan Laut akan mengganti bohlam tersebut. Menurut Langgeng, satu bohlam itu mampu bertahan selama 10 tahun.

Maka dari itu, bisa dipastikan petugas yang berwenang hanya menyambangi mercusuar ini beberapa kali saja dalam kurun 10 tahun. Padahal, kata Langgeng, keberadaan mercusuar ini sangat vital sebagai tanda kehidupan bagi kapal yang biasa melintas di sekitar pulau ini pada malam hari. Langgeng memprediksi apabila tidak ada mercusuar ini, kapal tangker, peti kemas bahkan nelayan bakal terdampar di pulau ini.

“Kalau malam banyak kapal yang melintas di sekitar pulau ini. Saat itu juga, lampu mercusuar kita nyalakan. Dengan begitu, dalam radius sekitar 300-400 meter, kapal yang sedang lewat akan menjauh dari pulau ini untuk menghindari karam di sekitar pulau,” ujar Langgeng.

Langgeng mengatakan, untuk menyalakan bohlam mercusuar yang memiliki tegangan 12.000 watt, pihaknya menggunakan tiga buah mesin diesel. Satu mesin diantaranya merupakan zaman peninggalan Belanda berbarengan dengan dibangunnya mercusuar. Sementara dua mesin diesel lainnya buatan Indonesia tahun 1980-an.

“Dulunya lampu ini menggunakan tiga unit diesel, tapi karena dua mesinnya rusak sekitar tahun 1980. Maka diganti dengan buatan Indonesia. Sementara satu mesin lagi masih bagus dan bisa dioperasikan,” kata Langgeng.

Ketika dikonfirmasi, Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Perhubungan Julius Andravida Barata mengatakan, pihaknya mesti melihat data perencanaan perbaikan fasilitas yang dipegang Dirjen Perhubungan Laut. Pasalnya ada beberapa fasilitas Dirjen Perhubungan Laut yang akan diperbaiki pada tahun ini.

Hantu Mercusuar Pulau Sabira


Di menara mercusuar setinggi 42 meter yang masih berdiri tegak di Pulau Ssbira sejak peninggalan kolonial Belanda, menyimpan certa angker. Mercusuar yang dibangun sejak tahun 1869 di masa pemerintahan Raja Willem III tersebut, ternyata menyimpan mitos mistis di dalamnya.

Konon, di Mercusuar yang usianya tergolong tua tersebut dihuni oleh satu keluarga asal Belanda yang kadang terlihat penampakannya baik di dalam maupun di sekitar Mercusuar.

Tini (60) yang merupakan warga yang sudah sekitar 20 tahun lalu menghuni Pulau Sabira mengatakan, pertama kali dirinya datang pernah melihat satu orang wanita, anak kecil, dua orang wanita dewasa, dan satu orang pria berjanggut berada di mercusuar tersebut.


“Ada empat orang bule rambut pirang kayak keluarga gitu, mereka berkeliaran dekat mercusuar dan di dalam mercusuar. Kalau enggak percaya coba aja mas naik ke sana malam-malam di atas jam 11,” ujar Tini.

Menurut Tini, saat itu dirinya penasaran dengan keberadaan mercusuar tersebut, dan ingin melihatnya lebih dekat. Namun baru sampai pintu depan mercusuar dirinya sudah mendengar suara anak kecil menangis.
“Saya baru mau masuk udah dengar suara anak kecil nangis di depan pintu masuk, tapi pas saya melengok kok gak ada, saya coba masuk ke dalam mercusuar eh lihat ibu-ibu pirang melototin saya di belakang pintu masuk,” tandasnya. Kejadian tersebut tak membuat Tini takut, kemudian dirinya berusaha untuk masuk ke dalam mercusuar.
“Saya coba masuk tapi ternyata digembok pintu masuknya, saya disamperin sama penjaga mercusuar, mau kemana bu, jangan ke sini udah malam mending ibu balik ke rumah aja, dia bilang begitu. Saya curiga, ternyata pas saya tanya kenapa, dia bilang, nanti daripada kamu kenapa-kenapa mending pulang aja,” tandasnya.
Sementara itu penanggung jawab mercusuar, Joko Darmaji (55) tidak menyangkal bila mercusuar kuno itu ada penunggunya.
“Iya memang ada penunggunya, mereka 4 orang asing. Makanya kalau foto-foto jangan cuma sendirian, nanti ada bayangan mereka. Nah kalau naik ke atas jangan malam hari dan nengok ke belakang karena biasanya penunggunya ada di belakang dan gak suka kalau diganggu, di situ ada anak kecil nangis dan pria tinggi tegap berambut panjang dan pirang,” tandasnya.

Pengunjung Juga Ditemui ‘Penghuni’ Mercusuar Pulau Sabira
Salah seorang penduduk Pulau Sabira, Ali (65) mengatakan, sangat sering ketika ada orang yang bukan penduduk asli Pulau Sabiri, didatangi salah satu dari empat penunggu saat mendekat ke menara Mercusuar itu.
“Kalau sama penduduk sini mah jarang banget ditemuin, tapi kalau sama orang asing mereka merasa keusik, makanya sering dijumpai,” ujar Ali di lokasi, Jumat (19/9/2014).
Menurut Ali, para penunggu berada di sekeliling mercusuar, seperti di depan atau dibelakang pintu masuk yang mengarah ke pantai, serta di depan pintu utama mercusuar, dan juga di dalam mercusuar, terutama saat menaiki anak tangga menuju puncak mercusuar.
“Waktu itu ada orang dari Jakarta kemari, dia penasaran pengen naik ke atas menjelang magrib,” kata Ali.
“Nah, waktu dia masuk ke dalam mercusuar katanya merinding dan sempat lihat ada sosok cewek di depan pintu belakang yang arah pantai. Dia bilang sih rambutnya pirang panjang dan mukanya mirip orang Belanda gitu,” jelas Ali melanjutkan ceritanya.
Namun, lanjut Ali, orang tersebut langsung lari dan urung menaiki mercusuar tersebut. “Pas sampai masjid, dia ketemu sama saya, saya bilang kenapa mas kok lari-larian? ‘Habis lihat setan pas dekat mercusuar!’,” pungkas Ali menirukan kata-kata orang itu yang nafasnya masih tersengal-sengal.
Anda mau mencoba bertemu dengan hantu bule itu? Silahkan mengunjungi pulau yang menurut pengunjung alamnya ‘masih perawan’ nan elok dan rupawan ini, pulau terpencil “Penjaga Utara”. Pulau Sabira, pulau paling luar dibagian utara dari Kepulauan Seribu, Provinsi DKI Jakarta.
(olah artikel: IndoCropCircles / sumber: Fitriandi Al Fajri, tribunnews / Dharmawan Sutanto, merdeka / maryono, travel.detik.com/ aryeenmita.wordpress/ berbagai sumber) Sumber : indocropcircles

world tour booking flights and hotels
Travel Indonesian
Bisnis Tiket Pesawat Di Rumah