Wisata Gunung Purba Nglanggeran

Mendaki Gunung Purba Gunung Kidul -Puncak Gunung Purba -Gencarnya publikasi tentang Gunung Purba, menjadi salah satu alasan mengapa kami tertarik untuk mengunjungi. Dulu (1980) sewaktu saya masih kuliah di Yogya, Gunung Purba ini tak dilirik oleh masyarakat sebagai objek wisata. Awam menilai Gunung Kidul adalah hamparan perbukitan kapur yang gersang, kering dan sulit air.

Tapi, munculnya objek wisata Gunung Purba, Air Terjun Sri Gethuk dan Gua Pidul dan gua-gua lainnya memupus anggapan miring itu. Potensi wisata di wilayah Gunung Kidul sekarang ini memang patut iacungi jempol dan boleh dimasukkan dalan daftar destinasi wisata alam Indonesia Travel. Konon popularitas objek wisata itu disebabkan karena munculnya kesadaran masyarakat setempat terutama kaum mudanya lewat karang Taruna.

Menemukan lokasi Gunung Purba ternyata tak sulit. Selepas tanjakan Pathuk papan penunjuk jalan ke Gunung Purba sudah terlihat. Mobil belok ke kiri menyusuri jalan kecil dan seketika mata diredupkan oleh kehijauan daun-daun pohon Jati yang tumbuh di kanan kiri jalan. Meski demikian, bebatuan kapur dan tanah lihat masih kelihatan di halaman rumah penduduk yang kami lewati.

Tak kurang dari 20 menit dari jalan raya Wonosari, kami tiba di lokasi. Mobil kemudian di parkir di antara bus-bus wisata dan mobil lainnya yang sudah lebih dulu parkir.

“Bapak, loket masuknya di sebelah sana” kata seorang petugas ketika kami melangkahkan kaki langsung menuju ke pendopo di pintu masuk. Sesampainya di loket, kami membayar karcis masuk per orang Rp. 5.000,- Saya sempat bertanya kepada petugas tentang angka kunjungan wisatawan per harinya.

“Kalau musim libur bisa mencapai ribuan. Sekarang saja sudah lima ratusan pengunjung. Kami buka hampir sepanjang hari terutama melayani yang ingin melihat matahari terbit dan terbenam atau pengunjung yang live-in” ungkap petugas dengan lugasnya.

Informasi itu sudah memberikan gambaran tentang kondisi awal objek wisata Gunung Purba dan lingkungan masyarakatnya yang welcome terhadap para tamu yang datang secara pribadi atau kelompok yang mau belajar mengenal lebih dekat sejarah, lingkungan hidup, budaya dan tradisi masyarakat setempat.
Pendopo yang tadi saya ceritakan berada di jalur pintu masuk sebelah kiri. Tampak beberapa anak muda melepas lelah sambil tiduran dan menonton video yang sedang diputar. “Pendopo itu disediakan untuk ruang tunggu bagi yang meraa kelelahan atau yang tidak ikut mendaki sambil menunggu rombongannya kembali” timpal seorang petugas.

Pendakian

Trekking Gunung Purba dimulai sejak melewati pintu masuk tadi. Jalan setapak bebatuan yang tak lagi flat tapi terus menanjak ke atas dan mengular, makin menantang nyali siapapun yang ingin mencapai puncak pendakian.

Ada tiga trek yang sungguh berat dilalui tapi sekaligus menantang keberanian dan kelenturan tubuh siapa pun. Trek pertama adalah jalan melewati batu dan untuk bisa lewat, harus berpegangan pada seutas tali yang telah disediakan. Trek sepanjang tiga meter ini sedikit menguras tenaga.

Trek kedua adalah jalan tanjakan yang dibantu dengan tangga bambu dan berpegangan pada akar pohon. Sedang trek ke tiga yang paling berat adalah mengikuti celah-celah antara tebing dan batu besar. Jalan ini hanya muat untuk satu orang. Jika berpapasan harus ada yang mengalah. Jalan sempit ini panjangnya kira-kira 200 meter.

“Kalau ada traffic-lightnya, enak sehingga tidak ada yang tabrakan di tengah jalan” teriak seorang anak muda yang nunggu di bawah karena ada rombongan yang sedang turun.

Soal capek lelah jangan ditanya lagi. Itu bagian dari nikmatnya pendakian di Gunung Purba. Meski disediakan gubuk-gubuk untuk melepas lelah di trek-trek berat bagi yang tidak kuat, tapi rasa penasaran hingga sampai di puncak terus membuncah di hati.

Akhirnya kami semua sampai di puncak. Rasa lega bercampur senang mulai terasa setelah melalui perjuangan pendakian yang menguras tenaga dan waktu hampir satu jam. Gubuk kecil yang ada di puncak menjadi sasaran pertama untuk melepas penat lelah badan ini dan atur napas yang ngos-ngosan.

Puncak Gunung Purba

Sekitar lima menit saya istirahat dan setelah itu mulailah saya dan rombongan menikmati indahnya hamparan alam Gunung Kidul dan sejauh mata memandang Gunung Merapi tampak samar diselimuti awan putih. Saat itu cuaca sungguh bersahabat dengan rona wajah biru langit dan karpet kehijauan di bawahnya yang ditumbuhi pepohonan.

Menginjakkan kaki di puncak Gunung Purba serasa berada di negeri awan. Di tempat saya berdiri inilah tak sedikit pengunjung yang berburu sunset dan sunrise. Selain itu, saat memandang bongkahan batu raksasa secara dekat, benak ini seakan ditarik ke masa lampau ketika Gunung Purba ini adalah gunung berapi yang aktif. Saya pun teringat Gunung Lokon, Tomohon yang sehari-hari saya lihat mengepulkan asapnya sebagai tanda gunung berapi itu super aktif.

Turun Gunung
Pendakian sudah. Sekarang turun gunung pun harus menguras tenaga dan lebih hati-hati. Tiga trek yang tadi saya lalui pun untuk turunnya perlu ekstra hati-hati karena harus mengerem badan agar tak meluncur atau terpeleset.
Tak hanya itu, ketika berpapasan dengan pengunjung yang naik, saya pun harus memastikan untuk tidak terjadi tabrakan pada jalur yang sama. Antri satu-satunya cara yang terbaik baik saat mendaki dan turun gunung.
Saat itu, mungkin karena hari Minggu dan masih musim libur, silih berganti pengunjung naik turun gunung tak hentinya. Belum suasananya begitu riuh yang rata-rata mengeluh senang soal pendakian yang menguras tenaga. Tak heran saya melihat ibu-ibu dan adik-adik kecil berhenti di gubuk tak melanjutkan pendakian.


Memang karakter Gunung Purba menuntut syarat sehat jasmani terutama kuat untuk mendaki. Kalau tidak, lebih baik berhenti gubuk-gubuk kecil yang tealh disediakan untuk istirahat.

Belajar Sejarah

Gunung Purba adalah nama lain dari Gunung yang terdapat di desa Nglanggeran. Disebut Purba karena dulu gunung itu gunung api yang pernah aktif puluhan juta tahun yang lalu dan kini penampakkannya berbentuk bongkahan batu raksasa. Uniknya, gunung ini tak lepas dari mitos yang beredar di tengah masyarakat. Diceritakan bahwa nama Nglanggeran berasal dari kala “planggaran” yang berarti setiap perilaku jahat pasti tertangkap. Ada juga yang menyebut kata “langgeng” sebagai asal usul kata Nglanggeran yang berarti aman dan tentram.

Diisebut juga sebagai gunung Wayang karena bentuk bebatuan gunungnya mirip tokoh pewayangan. Kyai Ongko Wijoyo dan Punokawan diyakini masyarakat sebagai penunggu Gunung ini.

Mitos lain yang beredar adalah soal tumbuhnya tanaman obat (termas) yang mampu menyembuhkan segala penyakit dan tolak bala. Pohon termas ini menjalar dan tumbuh mengular di antara tebing-tebing dan mengeluarkan air. Air inilah yang dipercaya menyembuhkan segala penyakit bagi mereka yang meminumnya. Tapi tunggu dulu, tak semua orang bisa segampang mengambil air sakti itu. Dibutuhkan ritual khusus dan pawang untuk memperoleh air itu.

Kyai Soyono, penguasa desa Nglanggeran, konon memelihara macan putih untuk menjaga agar desa aman dan terhindar dari berbagai macam kejahatan. Kesenian wayang kulit oleh diadakan di tempat itu asal tidak membelakangi Gunung Nglanggeran. Pantangan ini seiring dengan larangan mementaskan cerita Kyai Ongko Wijoyo yang disakiti.

Begitulah cerita-cerita sejarah di balik objek wisata Gunung Purba. Informasi ini tak akan diketahui kalau pengunjung tak sempatkan diri untuk berbincang-bincang dengan petugas atau masyarakat setempat. Bagi kami, wisata yang melelahkan namun menyenangkan itu makin bermakna ketika mencoba memahami cerita-cerita yang beredar di balik objek wisata purba itu.