Wisata Timur - Bima Nusa Tenggara Barat

Bima itu Mbojo mengandung makna bahwa orang-orang yang merasa dilahirkan dan dibesarkan dari peradaban tanah ini harus bersatu padu membangun daerah tanpa harus dipisahkan oleh sekat-sekat birokrasi, kepentingan politik maupun wilayah yang telah dimekarkan.

Mbojo adalah sesuatu yang bulat dan utuh yang dihasilkan melalui kesepakatan para Ncuhi sebagai cikal bakal terbentuknya wilayah ini. Dengan Kata lain, bahwa Orang-Orang Mbojo atau Dou Mbojo adalah orang-orang yang bersatu, memegang teguh amanat, ulet dan pekerja keras. Untuk itu lah, Bima itu Mbojo memberikan gugahan makna kebersamaan, persatuan dan kesatuan serta persaudaraan yang kental seluruh elemen di Dana Mbojo. Terpanggil untuk memperkenalkan daerah Bima/ Mbojo kepada Masyarakat Luar dan lebih-lebih kepada Dou Mbojo itu sendiri agar tidak merasa asing akan daerah Bima / Dana Mbojo.

Berikut ini kami coba sajikan secara acak berbagai Sejarah, Tradisi, Wisata / potensi wisatanya yang  dirangkum dari berbagai tulisan dan narasumber sebagai berikut :
Di Pintu masuk Kota Bima, tepatnya di teluk Bima sebelah utara terdapat sebuah benteng. Masyarakat Bima menyebutnya dengan Benteng Asa Kota. Karena letaknya tepat di laut sempit yang menjadi pintu masuk Bima lewat jalur laut.Benteng ini penuh dengan romantika sejarah.

Bagaimana Sejarah Benteng ini ?
Karena tidak setuju terhadap isi perjanjian Bongaya, Sultan Abdul Khair Sirajuddin bersama Panglima perang Makassar Karaeng Popo meninggalkan Makassar dan membentuk kekuatan armada angkatan laut Bima. Bagi Abdul Khair Sirajuddin mentaati perjanjian Bongaya sama dengan bunuh diri dan tunduk pada Kompeni.

Selama pelariannya dari Makassar dua pendekar itu menyerang, merampas dan menenggelamkan kapal-kapal Kompeni karena kesal atas trik dan siasat adu domba Kompeni yang memaksa iparnya Sultan Hasanuddin harus menandatangani perjanjian Bongaya yang syarat dengan ketidak adilan. Di dalam perjanjian tersebut terdapat lima pasal yang berhubungan dengan Bima. Dan salah satu pasalnya adalah menangkap Abdul Khair Sirajuddin hidup atau mati.

Benteng ini dibangun pada sekitar tahun 1667 di sebuah pulau kecil yang diberinama Nisa Soma. Tepat dipintu masuk teluk Bima yang diberinama ASA KOTA( Asa= Mulut, Kota = Kota). Jadi Asa Kota merupakan pintu masuk menuju Bima dengan melewati Teluk Bima yang indah, tenang dan damai. Benteng Asa Kota dibangun dari tumpukkan batu-batu besar dan kecil yang disusun rapi mengelilingi Nisa Soma seluas lebih dari 1 hektar.

Pembangunan Benteng Asa kota dihajatkan untuk mengintai dan menghalau kapal-kapal Kompeni yang memasuki wilayah Bima dan merupakan basis pertahanan armada Angkatan Laut kerajaan Bima yang bernama Pabise. Bila ari laut surut, maka benteng Asa Kota dengan daratan di sekitarnya terlihat menyatu. Penduduk sekitar sering mendaki bukit di Nisa Soma ini untuk mencari kayu bakar.

Benteng Asa Kota adalah peninggalan berarti dari perjalanan sejarah Dana Mbojo dan merupakan salah satu benda cagar budaya yang dilindungi undang-undang. Benteng ini kondisinya sekarang cukup memprihatinkan dan membutuhkan renovasi dan rekonstruksi sesuai bentuk aslinya sebagai sebuah kenangan sejarah untuk generasi mendatang.


Museum Asi Mbojo (Bima)

Bima-Raba adalah ibu kota kabupaten yang selalu menjadi tempat persinggahan dan menghubungkan daerah timur,tengah dan barat dari Indonesia. Dengan mengunjungi Istana Kesultanan terlebih dahulu kita akan ditunjukkan barang-barang bersejarah yang menarik, seperti mahkota kesultanan dan beberapa keris yang bersarung emas dengan tangkai yang terbuat dari gading.
Bangunan yang dulunya merupakan pusat Kesultanan Bima dan pusat Pemerintahan Kabupaten Bima pada tahun 1950 masih berdiri dengan kokoh dan tegap yang merupakan symbol Dana Mbojo (Bima), atau lebih dikenal dengan nama Asi Mbojo. Dan kini oleh Pemerintah setempat dijadikan sebagai Museum, awal dibangunya Asi Mbojo (Istana Bima) pada tahun 1927 oleh arsitek Belanda yang bernama Obzicshteer Rehata dan sebagiannya juga di desain oleh sultan sendiri yaitu Muhammad Salahuddin (sulthan Bima yang terakhir).

Museum Asi mbojo diserahkan kepada NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) oleh Sultan Muhammad Salahuddin pada tahun 1951, dan tahun 1989 resmi dijadikan Museum oleh pemerintah kabupaten Bima hingga sekarang. Museum ini di kelola oleh pemerintak Kabupaten Bima dan di kepalai oleh Bapak Ridwan Maman, S.Ag (40) dengan 24 Pegawainya.

Isi dari beberapa koleksi Museum Asi Mbojo antara lain Benda-benda Pusaka peninggalan Kerajaan dan kesultanan Bima, dan yang paling terpopuler dari Koleksi Museum yaitu “Gunti Rante” sebuah parang yang sangat menakjubkan di ukir pada Zaman Majapahit dan Mahkota Sulthan yang terbuat dari Emas. Koleksi – koleksi Benda Pusaka, pengunjung Museum dapat melihatnya di ruangan Galeri Benda Pusaka di lantai satu, di lantai satu juga terdapat ruangan galeri benda-benda perkakas dan baju-baju peninggalan masyarakat pada zaman kerajaan dan kesultanan, di lantai satu ini dulu merupakan kantor pusat pemerintahan Kabupaten Bima 1951 hingga 1960. Bangunan – bangunan di lantai satu dan dua masih asli dan tidak pernah di Renovasi hingga sekarang.

Bila pengunjung juga ingin melihat Kamar tempat menginapnya Bung Karno (Ir. Soekarno) pengunjung dapat melihatnya di lantai 2, di lantai 2 pengunjung juga bisa melihat kamar – kamar Sulthan, putra Mahkota, dan kamar Putri. Ibu Nurhaini (45) Pegawai Museum yang bertugas untuk menemani para pengunjung untuk berkeliling kepada kami (Solud) bercerita “ bahwa dulu istana Asi yang pertama pernah di Bom pada masa peperangan sehingga di bangun Asi Kontu (istana belakang) untuk sementara, dan bangunan Museum saat ini adalah bangunan Asi yang kedua setelah yang pertama di bom” begitulah yang diceritakan oleh ibu Nurhaini.


Kamar tidur Ir. Soekarno saat mengunjungi Kesultanan Bima

Bila ingin berkunjung ke Museum Asi Mbojo pasti tidaklah sulit menemukannya, karena letaknya yang strategis pas di sebelah alun-alun Kota Bima, karcis untuk masukpun sangat murah untuk Dewasa atau Umum hanya Rp. 2000, anak- anak Rp. 500, Turis Rp. 3000, dan Pelajar dan Mahasiswa Rp. 1000.
Menurut kepercayaan Masyarakat Bima bahwa Museum Asi Mbojo masih memiliki Aura mistisnya, banyak kejadian-kejadian aneh dan hal-hal gaib yang terjadi di Museum ini, karena Asi (Istana) masih dijaga oleh para leluhur. Karakter bangunan Museum Asi Mbojo dalam pandangan Masyarakat Bima pada umumnya sangat Religius, dulu merupakan tempat semua masyarakat belajar Islam pada zaman Kesultanan Bima.

 Desa Donggo Bima - Nusa Tenggara Barat 
Donggo, dengan jarak 40 Km adalah desa tertua di Bima, penduduk desa ini memiliki pakaian dan tradisi yang berbeda dari desa-desa lainnya. Mereka memelihara tradisi etnik uniknya dengan selalu memakai pakaian hitam, masih mempertahankan tingkatan hierarkinya dan membangun rumah tradisional mereka sendiri. Donggo adalah sebuah Desa yang terletak di atas pegunungan Soromandi sebelah barat Kota Bima dengan ketinggian 1200 Meter, Donggo mempunyai keistimewaan dari Desa lain yang berada di Bima yaitu berbagai macam legenda rakyat dan tempat-tempat peninggalan sejarah berada di Donggo, salah satu Legenda rakyat yang terkenal yaitu kisah Putri La Hila.
La Hila adalah nama Putri cantik anak dari raja Donggo dahulu kala, La Hila mempunyai rambut sepanjang 7 buah bambu dan paras cantiknya sangat menggoda para Raja yang melihatnya, kejadian yang melegenda dari La Hila yaitu dia dikubur hidup-hidup karena dia tidak ingin menerima lamaran dari salah satu Raja Bima, setelah kuburannya di buka ternyata jasad La Hila telah hilang, hingga sekarang masyarakat Donggo mempercayai bahwa La Hila sering menampakkan diri dengan wujud wanita cantik.
Di Donggo masyarakatnya masih menjada adat istiadat leluhurnya sehingga masih terdapat rumah yang dulunya bertempat tinggal kepala suku atau di sebut Ncuhi Donggo yang terdapat di Donggo Mbawa, ada dua agama yang dianut oleh masyarakat Donggo yaitu Kristen Katolik dan Islam, penganut agama Katolik di Donggo yang uniknya yaitu mereka memakai nama Islam akan tetapi agamanya Katolik.
Ada cerita rakyat yang menarik lagi di Donggo yaitu dahulu kala sebelum terbentuknya kerajaan Bima, Raja dari Pulau Jawa yang dulu pernah berjanji akan mengirim anaknya untuk memimpin tanah Mbojo (sebutan tanah Bima dahulu kala), sang Raja mengirim kedua anaknya ke Bima dengan sebatang bambu, kemudian di pinggir pantai Donggo hiduplah sepasang suami istri yang sudah tua renta dan belum mempunyai anak, tiap malamnya mereka berdua mendengarkan bunyi gendang yang sangat besar, dan mereka berdua pun memeriksa dari mana asal suara gendang tersebut tetapi mereka tidak menemukan sumber suara tersebut.
Ke esokkan harinya Ompu (panggilan sang suami) pergi kepinggir laut untuk mencari kayu bakar, dan dia menemukan sebatang Bambu kemudian Ompu mengambilnya membawa pulang kerumahnya, malam harinya suara gendang tersebut masih ada Ompu beserta istrinya sangat penasaran dari mana suara gendang tersebut. Pagi harinya Ompu akan membelah kayu yang dia kumpulkan dengan sebuah kapak, kemudian pas Ompu ingin memotong Bambu yang dia temukan di pinggir pantai, mengeluarkan suara yang melarang memotong bambu tersebut dan keluarlah dua pangeran bersaudara dari Bambu tersebut yang merupakan anak dari Raja Pulau Jawa yang datang untuk memimpin Bima seperti yang dijanjikan. Kemudian salah satu saudara tertua dari kedua bersaudara itu menjadi Raja Bima yang bernama Indra Zambrud yang menjadi asal usul Raja-raja Bima.(Fahrurizki)
Pantai Lawata
Pantai Lawata adalah berupa sebuah “tonjolan” ke teluk Bima. Di Lawata terdapat sebuah bukit kecil yang memiliki beberapa buah gua kecil.Lawata memang sudah sejak dulu menjadi sebuah obyek wisata atau tempat piknik bagi masyarakat Bima. 
 
Lawata terletak hampir di luar kota Bima. Pantainya bukanlah tempat yang bagus untuk bermain air, namun air (laut)nya bisa dibilang cukup jernih walaupun kadang berlumpur dan banyak batu-batu yang berserakan. Karena historinya, Lawata kemudiandibangundibuatkan banyak “cottage” yang berderet di sepanjang pantainya. Setiap cottage memiliki bagian “ dalam yang bisa digunakan untuk lesehan, bagian luar/depan yang bisa digunakan untuk memandang ke arah laut/teluk, dan tempat berbeque di sebelah luar/belakang. Tampaknya, setiap cottage cukup untuk sebuah keluarga atau rombongan yang lebih dari 10 orang.
Makanan Khas Bima
Kopa Sahe Tente
Bagi warga Bima, Menu Kopa Sahe merupakan salah satu menu pilihan untuk berbuka puasa. Yah, Kopa Sahe hanya dikenal di desa Tente kabupaten Bima. Seperti apa menu makanan khas Bima yang satu ini ? Berikut, Kru Sarangge melaporkan untuk anda.
Desa Tente kecamatan Woha Kabupaten Bima sudah lama dikenal sebagai urat nadinya perekonomian di daerah ini. Bisa dikatakan Tente merupakan pusat perdagangan dan perbelanjaan masyarakat dari berbagai pelosok pedalaman di kabupaten Bima seperti dari Langgudu, Parado, Monta, Belo dan Palibelo. Disamping itu, di desa ini juga terdapat satu tempat pemotongan hewan yang dikenal dengan BANTE. Pemotongan hewan seperti kerbau, Sapi dan Kambing dilakukan setiap hari.
Ada satu makanan khas dari desa ini yaitu Soto Kaki Kerbau atau yang dikenal dengan Kopa Sahe. Ini adalah salah satu produk andalan Desa Tente yang cukup banyak digemari oleh berbagai kalangan, baik orang Bima sendiri maupun orang luar Bima. Kopa Sahe merupakan makanan yang berbahan dasar dari kaki kerbau. Kaki Kerbau diolah dan dimasak dengan bumbu yang telah di tentukan jenis dan porsinya. Salah satu pedagang Kopa Sahe Rohana Ahmad yang telah lama melakoni profesi ini mengatakan Kopa Sahe cukup diminati. Kisaran hasil yang diperolehnya setiap hari adalah 300-400 ribu rupiah. Namun menurutnya hasil tersebut belum mampu digunakan untuk modal mengembangkan usahanya tersebut. Harapnya Pihak Pemerintah memperhatikan pedagang-pedagang kecil agar dapat mengoptimalkan pemanfaatan prodak daerah sehingga kian diminati dan dilirik khalayak ramai.
Hanya saja, penjualan dan pemasaran makanan ini masih dilakukan secara tradisional dengan dijajakan dari kampung ke kampung. Belum ada satupun pedagang Kopa Sahe yang menjual di di depan jalan utama Tente atau di warung-warung di pasar Tente. Justru yang banyak dijumpai di depan jalan-jalan utama Tente adalah warung dan rombong Bakso, Nasi campur dan soto serta Sate Kambing. Ini tentunya menjadi PR bersama untuk mendorong para pedagang Kopa Sahe menjual makanan ini di depan jalan-jalan utama Tente agar mudah dilihat dan dikunjungi daripada berada di dalam kampung seperti yang dilakukan selama ini.
Desa Tente letaknya tidak jauh dari Bandar Udara Muhammad Salahuddin Bima. Jika menggunakan kendaraan bermotor cukup menghabiskan waktu sektar 10 menit. Secara geografis desa ini berdaratan rendah dan diapit oleh sawah. Sebalah Selatan berbatasan dengan Desa Naru, sebelah Utara berbatasan dengan Rabakodo, Sebelah Barat berbatasan dengan Samili dan sebelah Timur berbatasan dengan Desa Cenggu Kecamatan Belo. Baru-baru ini Tente dimekarkan menjadi dua bagian yaitu desa Nisa dan desa Naru. Dengan jumlah penduduk sebanyak 3.383 orang dan 878 Kepala Keluarga, sumber mata pencaharian masyarakat Desa Tente beragam, diantaranya pedagang, petani, pelaut dan PNS.
 Desa Sambori
Sambori merupakan salah satu dari lima desa di lereng gunung Lambitu di sebelah tenggara kota Bima.
Ada dua fersi tentang nama Sambori. Fersi pertama mengemukakan asal mula kata Sambori adalah SAMBORE (Palu), yang berarti adanya ketetapan hati dan keputusan untuk tetap tinggal di lereng Lambitu dan tidak lagi berpindah-pindah. Hal itu didasari kespekatan bersama dalam satu musyawarah sehingga jatuhlah Sambore(Palu) kesepakatan itu. Fersi kedua, Sambori berasal dari kata SAMPORI yang dalam bahasa Bima berarti melepaskan diri. Karena setelah membangun pemukiman dan menemukan cara bercocok tanam yang menetap dengan kondisi lereng Lambitu yang subur, mereka memutuskan untuk melepaskan diri dari komunitas lainnya.
Sebelum pemekaran kecamatan pada tahun 2006, Sambori dan sekitarnya masuk dalam wilayah kecamatan Wawo. Orang-orang Bima sering menyebut dengan nama Wawo Tengah. Sambori dan desa-desa di sekitarnya terletak di ketinggian 700 Meter di atas permukaan laut. Memandang Sambori dari kejauhan seperti negeri yang menggantung menyelinap dalam awan dan kabut. Dibalut keluguan dan keramahan warganya, Sambori adalah pelepas rindu akan nyanyian alam yang syahdu bersahaja.
Desa Sambori berbatasan dengan Desa Renda kecamatan Belo Kabupaten Bima di sebelah barat,dan hutan tutupan Arambolo di sebelah timur. Di sebelah utara berbatasan dengan desa Teta sebagai ibukota kecamatan Lambitu, dan di sebelah utara bersebelahan dengan desa Kawuwu kecamatan Langgudu. Desa Sambori terdiri dari dua dusun yaitu Dusun Lambitu yang dihuni 222 Kepala Keluarga dan Sambori Bawah (Dusun Lengge) yang dihuni 930 Jiwa serta 223 Kepala Keluarga.
Sebagai daerah puncak yang berjarak sekitar 44,3 KM, Sambori potensial untuk pengembangan tanaman Bawang Putih, Jeruk , Alphokat, Rambutan, Mangga, Pisang, Sawo, Jambu Batu serta tanaman lainnya.Di lereng Sambori terdapat 275 pohon Jeruk, 300 pohon Alpukat, 450 pohon Mangga, 300 pohon kelapa, 200 pohon pinang serta aneka pepohonan lainnya.
Di sector peternakan, kawasan Sambori sejak dulu memang telah dikenal sebagai areal pengembalan ternak seperti kuda, kerba, Sapi dan Unggas. Namun yang paling dominan digeluti warga Sambori dan sekitarnya adalah tanaman padi dan Bawang Putih serta ternak Kerbau, Sapi, kambing dan jenis unggas. Berternak memang telah menjadi tradisi turun temurun warga Sambori dan sekitarnya. Hal itu dibuktikan dengan prototype Uma Lengge yang di lantai dasarnya memang diperuntukkan untuk penyimpanan dan pemeliharaan ternak.
Desa Sambori memiliki luas sekitar 1.802 Ha atau sekitar 33,58 % dari luas wilayah kecamatan Lambitu. Sekitar 1.260 Ha adalah lahan Sawah dan tegalan.Sisanya diperuntukkan untuk pemukiman dan prasarana umum, perkebunan rakyat dan kawasan lindung seluas 736 Ha.Topografi wilayah Sambori dan sekitarnya berbukit-bukit dan datar yang menyebar di sepanjang lereng Gunung Lambitu. Suhu udara di Sambori rata-rata antara 20 hingga 25 C.
Rumah Solud – Desa Sambori adalah sebuah desa yang berada di atas dataran tinggi pegunungan Lambitu dan termasuk wilayah Kecamatan Lambitu Kabupaten Bima, Desa Sambori hanyalah sebuah Desa yang sangat kecil dengan kehidupan yang masih tergolong Tradisional. Masyarakat Sambori rata-rata bekerja sebagai Petani dengan penduduk 800 jiwa ± dan di kepalai oleh seorang Kepala Desa, mereka bercocok tanam sejak zaman nenek moyang mereka berada. Jarak Desa Sambori dari Bima hanya 400 KM, tetapi sekarang kendaraan tidak lagi susah untuk ke Sambori karena pemerintah setempat sudah membuat jalan yang baru dan di Aspal.
Kebiasaan masyarakat Sambori yaitu makan daun sirih karena suhu dan udara di Desa sambori sangat dingin sehingga untuk menghilangkan kedinginan, mereka makan daun sirih yang di campur dengan beberapa ramuan sehingga badan mereka jadi hangat. Ada satu keunikan dari masyarakat Desa Sambori yaitu mereka masih mempergunakan bahasa yang lain dari bahasa Bima dan sekitarnya, banyak orang mempunyai anggapan dan persepsi masing-asing bahwa bahasa Sambori adalah bahasa asli Suku Bima atau bahasa nenek moyang, yang hingga sekarang masih dipergunakan oleh masyarakat Desa Sambori.
Kehidupan masyarakat Desa Sambori sangat sederhana, iu tampak dari bentuk dan perabotan yang ada dirumah mereka, Masyarakat Desa Sambori bisa dibilang masih tergolong terbelakang mengenai Tekhnologi maupun perkakas untuk keseharian mereka yang berkembang disaat ini, hingga mereka banyak yang masih menggunakan peralatan dan perkakas yang masih Tradisional, Panci untuk masak mereka masih menggunakan panci yang terbuat dari tanah liat, dan yang lebih menarik lagi di Sambori bila hujan turun mereka tidak menggunakan payung pada umumnya, akan tetapi mereka menggunakan sebuah kulit pohon atau daun Pandan maupun Rotan yang di buat untuk menjadi payung, masyarakat setempat menyebutnya “WAKU” dan orang Bima mengenalnya dengan nama “LUPE”.
Masyarakat Desa Sambori Banyak yang memeluk Agama Islam, karena ada sebuah cerita sejarah lama yang diyakini oleh Masyarakat Sambori yaitu sejak berdirinya Kerajaan Bima, Islam pertama kali masuk di Kerajaan Bima melalui dataran tinggi yaitu di Sambori oleh seorang Ulama dari Ternate yang bernama “Syekh Subuh”, karena Beliau tiba di Sambori saat Subuh, kemudian Syekh Subuh menyiarkan ajaran Islam di Sambori, makam Syekh Subuh berada di atas Puncak Gunung Sambori, atau di sebut kuburan keramat.
RUMAH  LENGGE  DI WAWO
Dari kejauhan tampak sebuah gubuk yang meruncing segitiga yang terlihat banyak yang atapnya terbuat dari jerami, itulah Rumah Lengge, rumah tradisional masyarakat Wawo yang mempunyai gaya arsitek yang unik , dengan bahan bangunannya kayu dan bambu beratapkan jerami. Dan Rumah Lengge merupakan rumah asli Pribumi suku Mbojo (Bima).
Ternyata rumah Lengge ini berdiri diatas batu kali sebagai dasar rumah, yg hanya empat kaki tanpa semen, rumah lengge ini hanya memakai paku yang terbuat dari kayu dan yang lebih menarik lagi untuk mengikat bambunya tali yang terbuat dari kulit pohon. Rumah Lengge ini juga berfungsi sebagai tempat penyimpanan padi di atasnya dan ruang tidur dibawah yang mirip saung yang berukuran atau luasnya hanya 8×4 meter.
Rumah Lengge ini ternyata juga rumah anti tikus, dimana tikus maupun kucing tidak dapat masuk dirumah Lengge karena dasar batu rumah dan tiang-tiangnya mempunyai siku yang berbentul huruf L sehingga tikus maupun binatang merayap lainya susah untuk masuk kerumah Lengge.
Masyarakat di desa Wawo saat sekarang masih menggunakan rumah Lengge sebagai tempat penyimpanan Padi ataupun hasil pertanian mereka. Di Wawo tepatnya di Desa Maria masih berjejer rumah Lengge dan Jompa (rumah yang serupa dengan Lengge), dan dijadikan tempat untuk kunjungan wisatawan yang ingin melihat rumah Lengge dan kehidupan tradisional masyarakat setempat